mia's posts with tag: uyut odon
|  | Kali ini saya mengenalkan Bu Hafsah, atau biasa kita panggil Uyut Odon. Beliau koki di rumah Bapak-Ibu saya. Usianya sekarang insya Allah sekitar 79 thn (katanya, waktu Jepang menjajah thn 1942, usianya sekitar 15 thn, itu patokannya). Kenapa dari Hafsah bisa jadi Odon? Konon, itu saya yg merubah panggilan orang seenak wudel saya, ketika usia 1,5 thn-an. Sekarang sih beliau lebih sering kita panggil Uyut saja. Aslinya dari Betawi daerah Jln Minangkabau, seputaran Manggarai, Pasar Rumput dan sekitarnya
Sejarahnya Uyut ikut Bapak-Ibu,dulu, tahun 1960, Uyut ikut kakaknya Kakek saya. Setelah bekerja sekian lama, mungkin 5 tahun, (saya juga lupa) akhirnya beliau mengundurkan diri, tidak betah dengan suatu alasan tertentu. Waktu Alm Nenek saya meninggal, sekitar tahun 1968-an Uyut diajak bekerja dan jadi koki di rumah Alm.kakek saya
Kemudian, setelah Bapak Ibu saya menikah thn 1971, Uyut pun "diwariskan" dari kakek Alm, untuk ikut Bapak Ibu, sampai saat ini, menjelang 36 tahun ikut Bapak Ibu. Kemana saja Bapak Ibu pindah, Lampung, Jakarta, P.Singkep-Riau,Jakarta lagi, Kendari, dan balik ke Jakarta selalu saja Uyut Odon ikut.
Subhanallah, setia ya? Beliau memang tidak punya suami lagi sejak thn 1975, suaminya sudah meninggal. Alhasil, pengabdiannya benar-benar, kita pun sudah tidak menganggap khadimat/pembantu. Lebih kita anggap sebagai nenek saja. Dan yang terpenting, masakannya Te O Pe banget. Masak apa saja (nyaris) bisa. Beliaulah yang membuat saya dan Mamah manja, jadinya kami berdua ngga jago masak :(
Sewaktu di milis Jalansutra lagi seru membahas masakan gabus pucung, beliau "panas" dan langsung membuat ikan lele pucung (gabusnya susah) untuk kami. Belum lagi asinan buah andelannya..duhduh, yg walau tiap orang bisa catet resepnya, tetep aja, ngga sama hasil akhirnya. Masakan Padang, Jawa, Eropa, Betawi, apa saja, bisa. Banyak yang mencatat resep masakannya, termasuk saya, tapi ngga bisa menyamai rasa masakannya. Maklum Uyut memasak by feeling, liat dulu jumlah ikan/daging/ayam/ buah/ sayur berapa banyak, barulah bumbunya dikira-kira.
Teman-teman kami 4 bersaudara sewaktu SMP, SMA, Kuliah, kerap ikutan makan masakan Uyut. Rumah ortu kami dulu sering jadi markas ngumpul anak-anak. Bapak Ibu punya 4 anak dgn jarak usia dekat, hanya beda 1,8 thn dan 2thn (yg ke 3 dan ke 4 kembar) jadi rame kalau anak-anak kumpul.
Selain jadi koki, beliau juga jadi "malaikat penjaga" kami ber-4, gualaknya minta ampun, jauh lebih galak dari Mamah, tapi kami herannya nurut. Waktu SD, kalau jam 5 belum pulang bermain, pintu rumah dikunci semua, jangan harap dibukakan, kalau kami belum mau berjanji pulang tepat waktu.
Kejadian lucu di thn 1981 waktu Bapak Ibu saya berangkat Haji Abidin (Atas Biaya Dinas, karena jadi dokter kloter berdua). Uyut menjaga kami lebih dari 40 hari, tiap minggu kami ditelfon Bapak-Ibu, cukup makan ngga? nakal ngga? ulangan bagus ngga? Saat itu saya kelas 3 SD, adik2 saya kelas 1 SD dan 2 orang yang kembar TK Kecil.
Ketika Bapak Ibu pulang, betapa kagetnya mereka, melihat kami ber 4 menjadi gendut, buncit, pokoknya persis cerita Hansel and Gretel yangg digemukin dulu sebelum dimakan oleh nenek sihir. Kami juga kalau liat foto jaman itu bisa geli ketawa sendiri. Kami dikasih makan luarbiasa banyak, minum susu, disuruh tidur siang 2 jam perhari dengan alasan takut kami sakit.
Cita-cita Uyut dari dulu meninggal nanti saja kalau kami ber 4 udah menikah. Wah...sedih dengernya, karena kami 4 bersaudara sudah menikah semua dan memberi 8 (menjelang 9) cucu ke Bapak-Ibu. Sekali Uyut masuk ICU di thn 1996, karena sesak nafas hebat, waktu itu saya mengandung Afra. Wah...kami ikut sibuk menunggu di ICU. Alhamdulillah, setelah 5 hari dirawat Uyut sembuh juga. Sampai saat ini, keluhan beliau hanya pegal-pegal saja. Tapi kalau dilarang masak, tidak mau, alasannya, kalau diam saja, malahan jadi capek.
Ya Allah...semoga Uyut selalu sehat. Amiiin |
| |