Cerita ini cerita mudik beberapa tahun lalu, hampir 11 tahun lalu saat saya hamil Afra. Kami mudik bukan ketika Lebaran, tapi di bulan lain untuk silaturahim biasa. Karena saat itu kami belum memiliki mobil, kami naik kereta api, disambung bis dan disambung becak. Kami naik becak pertama yang menghampiri. Pak becaknya bertopi caping, topi lebar yang menutupi muka, sehingga wajahnya tidak terlihat.
Kami naik dan asyik ngobrol berdua, sore itu cerah, angin semilir, perjalanan dengan becak memakan waktu sekitar 20 menit, melewati pematang sawah, perkebunan jeruk, hamparan kebun melati dan kebun sayur. Ketika hampir sampai, pak becak langsung membelokkan becaknya menuju rumah mertua. Suami saya kaget, katanya dalam bahasa Jawa: Lho kok ngerti pak rumah saya?
Pak becak tidak menjawab, ketika kami turun, betapa kagetnya Mas Budi. Ternyata, pak becaknya teman sewaktu SMA, benar benar sekelas jurusan A2 (Biologi) yang sama-sama lulus di tahun 1990. Akhirnya, kami melebihkan ongkos pembayaran, dan tak lupa menitip salam untuk keluarganya. Sebetulnya pak becak kami ajak masuk dan ngobrol di dalam, tapi katanya, setoran belum memenuhi target, jadi harus kembali ke pangkalan becak.
Subhanallah...nasib memang bisa berbeda, semoga sang teman tersebut sekarang sudah membaik keadaanya. Amiiin.