Judulnya panjang sekali ya? Berawal dari beberapa hari lalu saya terlibat obrolan dengan 3 teman wanita, 2 sudah berkeluarga,1 sudah berputra, 1 belum serta 1 masih lajang. Semua di usia 30-an awal. Pembicaraan berakhir pada masalah sekolah lagi.
Kermbali ke pembicaraan, 1 kenalan yang sudah berputra, berencana melanjutkan S3, OK lah, bidang kerjanya memang menuntut dia melanjutkan sampai jenjang itu. Tapi kemudian, pembicaraan menghangat ketika dia berkata bahwa sang suami, mau juga melanjutkan ke jenjang yang sama, dan mulai/start pada saat bersamaan.Saya tanya, suaminya type apa? Mau berbagi pekerjaan domestik? Teman menjawab, suaminya type pekerja kantoran sejati, anti berurusan dengan anak bahkan tidak pernah menggendong anak selagi bayi, tidak pernah berbagi urusan domestik, dan memilih dia sebagai istri karena dia bisa menghandle (hampir) semua urusan, mulai urusan sekolah anak, sampai urusan mencari nafkah. Saya kurang setuju disini.
Ada kenalan saya juga, ketika sang istri mendapat beasiswa S3, di Luar Negeri, sang suami ingin melanjutkan pada saat yang sama, walau dengan biaya sendiri. Mereka sudah punya beberapa anak, dan suami juga terikat pekerjaan di negeri asalnya. Keduanya sama-sama sibuk kuliah dan mengasuh anak. Akhir kisah, tidak happy ending menurut saya, kuliah mereka berdua tidak selesai. Si istri sibuk membagi peran antara menjadi mahasiswa dan mengurus keluarga. Suami, karena bukan tipe yang mau memasak, membersihkan rumah dan mengurus anak, akhirnya justru bukan menjadi teamwork yang baik. Beasiswa keburu habis, dan kantor suami pun sudah tidak menerima suami bekerja kembali. Tabungan pun habis untuk biaya sekolah suami.
Akhirnya saya berbagi pada teman yang sudah berkeluarga dan sedang menanti kelahiran anak ke-2 nya, bahwa sekolah lagi, apalagi S3 ke luar negeri, untuk istri, sungguh, harus dibicarakan masak-masak dengan suami dan keluarga besar. Kalau setengah-setengah, bisa jadi akan gagal jika ngotot mau bersama sekolah keduanya. Kecuali, sang suami berjiwa besar, mau bergantian mengurus anak, berbelanja, memasak dan pekerjaan domestik lainnya. Dan mengalah dulu, suami melanjutkan S3 jika si istri minimal, proposal disertasinya sudah disetujui oleh dosen pembimbing. Tinggal ujian saja. Atau mengalah, tinggal di Indonesia dulu, dan nanti setelah istri selesai, baru apply lagi
Yang lajang lain lagi masalahnya, menimbang terus apakah kuliah atau menikah. Kami semua yang sudah menikah sepakat, kulah saja dulu, jika ada kesempatan dan sudah diterima. Si lajang juga berpendapat demikian, hanya biasalah, faktor keluarga, meminta dia menikah dulu. Tapi bagaimanapun, jodohnya belum tiba sekarang, jadi kami berpendapat, yang duluan tiba saja yang diambil, dalam hal ini beasiswa untuk kuliah lagi.
Ada yang punya pengalaman sama-sama suami istri dengan minimal 2 anak dan 1 masih bayi kuliah S3 lagi dan sama-sama berhasil? Dengan rendah hati saya minta kesediaanya untuk berbagi disini. Terimakasih sebelumnya, dan maaf kalau ada kalimat kurang sreg di postingan ini.