Catatan Cinta Kami Sekeluarga

mia's posts with tag: refleksi

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag refleksi
Blog EntryMencairkan KebekuanApr 8, '08 3:37 AM
for everyone
Kemarin aku baca artikel bagus di koran, wah... ini dia niy, temen yang bolak balik curhat kusuruh baca ini aja deh, secara beberapa bulan ini beberapa teman menelfon, lagi banyak masalah rumah tangga yang hampir sama, kesibukan kerja, kurang komunikasi, ya begitu deh jadinya...merasa asing dengan pasangan sendiri
 
Tapi kiat di bawah ini juga bisa diterapkan untuk mendekatkan diri kembali dengan ortu, anak, adik, rekan kerja. Pada intinya sama sih, mencairkan kebekuan dalam berinteraksi. Selamat membaca. Ada tanggapan dan tambahan? Silakan berbagi....
 
Mencairkan Kebekuan
Minggu, 6 April 2008 | 00:58 WIB

Leila Ch Budiman psikolog

Tidak mudah menjaga kemesraan hubungan pasangan suami-istri dalam kesibukan kerja masing-masing.

Ny Ir di Pinggir Jakarta- Tegang dan menjengkelkan

Ibu Leila yang baik, semakin hari saya merasa ada yang kurang sehat dalam kehidupan keluarga kami. Kami sudah menikah enam tahun dan dikaruniai dua anak yang cerdas dan cakap. (Sulung, pria, 5 tahun dan adiknya, putri, 2 tahun). Kami berdua bekerja di tempat berbeda dan arahnya pun berbeda pula sehingga tidak mungkin pergi bareng.

Agar tidak terlambat (sebab tempat tinggal kami jauh dari pusat kota) kami pergi ketika masih gelap, ketika anak-anak masih tidur dan pulang juga sudah gelap. Saya naik kereta api (sebab kantor saya dekat stasiun kereta api) dan suami naik mobil kami yang sederhana.

Saya merasa ada sesuatu yang hilang dalam hubungan kami. Kami masing-masing lelah, dan akhir-akhir ini suami suka membawa pekerjaan pulang. Ini sering membuat saya jengkel, dia di depan komputer sampai larut malam. Jadi, kalau dia butuh saya buat hubungan intim, saya tolak sebab saya juga lelah dan merasa hanya ”dipakai” saja. Ini membuat hubungan kami jadi tegang dan tidak menyenangkan.

Akhirnya dia suka marah karena soal-soal kecil. Sampai teriakan anak-anak yang wajar jadi terasa bising dan mengganggu. Ke mana perginya kemesraan kami dulu?

Jeng Ir yang baik,

Sedih ya jika hubungan yang hangat dan mesra itu telah berubah jadi dingin menyebalkan. Dapatkah kemesraan itu dipulihkan kembali?

Tentu tidak mudah, tetapi dengan keinginan kuat dan usaha maksimal, saya yakin dapat. Saya lihat hubungan Anda dengan suami mulai gawat sebab ada kecenderungan ke arah saling menolak dan menghindar dan ini terasa menyakitkan. Kalau dibiarkan saja akan semakin parah, jadi perlu cepat direparasi.

Jamu utama bagi pasangan sibuk yang waktunya minus adalah membuat kualitas hubungan plus. Caranya aneka ragam, antara lain:

Jangan menolak pasangan

Dari pengamatan ahli perkawinan, tampak pasangan yang bahagia adakalanya saling mendekat dan ingin bersama pasangannya. Misalnya, dengan melihat ke arah pasangannya, ingin duduk dekat pasangan, atau ingin mengobrol dengan pasangan. Jika keinginan ini dihambat, apalagi ditolak, akan menyakitkan. Lebih sering ditolak, lebih menyakitkan. Dalam perkawinan bahagia, keinginan dekat ini disambut baik oleh pasangannya.

Jeng Ir, cobalah penuhi kebutuhan suami yang paling intim. Soal beberapa menit, plusnya terasa berhari-hari. Suami pun perlu menyediakan waktu yang menyenangkan buat keluarga, jangan rumah dijadikan kantor.

Perbanyaklah kebersamaan

Yang mendekatkan hati pasangan, menurut ahli perkawinan, bukanlah gaya romantis ala Hollywood, makan malam dengan banyak lilin, atau bertamasya yang serba ”wah” ke Las Vegas dan Paris, tetapi kegiatan kecil sehari-hari yang dilakukan bersama. Misalnya, sarapan pagi bersama sambil mengobrol, menikmati TV bareng, saling menggosokkan remason ke punggung yang pegal. Kebersamaan ini jadi obat penawar ketika datang badai di keluarga.

Menghindari ”momok” perkawinan

Momok yang dapat merusak perkawinan adalah kata-kata, sikap, dan perbuatan yang kasar. Kedua pihak mencoba bersikap lebih lembut dan baik. Jadi, suami tidak teriak, ”Mana kopi!?”, tetapi lunakanlah suara dan panggil istri (juga anak) dengan kata-kata yang menyenangkan, ”Sayaang tolong dong kopinya.” Istri jangan sewot, memaki, ”Huh, lagi-lagi komputer, dasar egois!” Lebih aman kalau bilang, ”Mas, banyak tugas ya hari ini? Saya kangen nih.”

Cari waktu yang tepat

Kalau mau bicara soal tagihan rekening, anak berantem, piring pecah, atau kaki keseleo, jangan ketika pasangan baru muncul di pintu rumah. Tunggullah sejenak sampai ia telah melepaskan lelah dan sudah relaks. Saat santai ini tidak mudah meledakkan emosi.

Perhatian dan penghargaan

Ini adalah kebutuhan pokok pula, bagai kebutuhan sandang pangan. Tunjukkan kepadanya kita menghargainya. Misalnya, kalau pasangan kita bercakap, jangan terus baca koran atau pura-pura tidak mendengar. Lihatlah ke arahnya dan coba mengerti apa yang dikatakan olehnya. Jangan bersikap bagai polisi yang sibuk mencari kesalahan, jangan pula bersikap bagai musuh yang siap menerkam. Bersikaplah bagai sobat kental yang berminat. Jangan lupa, paling sedikit satu kali dalam sehari mengucapkan sesuatu yang baik dari pasangan kita secara jujur. ”Kopinya enak, Ma”; ”Mas, kamu hebat, dapat membetulkan mainan si buyung”; ”Kamu lucu tadi, saya sampai terpingkal-pingkal.”

Lihat yang baik dan banyak bersyukur

Biasakanlah melihat yang baik-baik dan bersyukur. Bukankah Anda berdua sehat dan segar bugar? Tidak buta, buntung, dan dirawat di rumah sakit? Anak-anak juga cerdas dan cakap. Suami dan istri dapat pekerjaan, betapa banyaknya bangsa kita yang tidak dapat pekerjaan. Suami rajin bekerja, bukan rajin cari WIL. Masih sangat banyak yang patut disyukuri.

Mengingat yang positif membuat perasaan jadi lebih tenang, senang, dan ingat kepada Allah yang memberi anugerah. Ini membuat wajah juga hati lebih jernih dan tidak mudah kelabakan kalau ada cobaan.

Jeng Ir, jika Anda berdua rajin ”minum jamu” di atas, saya percaya kemesraan kalian akan bersemi dan subur kembali. Silakan dicoba.

---------------------------------

UPDATED

Akhirnyaaaa...Multiply udah ngga diblokir lagi,wah senengnya bisa nge MPi lagi .

 

 


Blog EntryPekerjaan Lelaki Vs Pekerjaan PerempuanFeb 27, '08 8:02 PM
for everyone

Yang saya maksud pekerjaan sehari-hari yang umumnya dilakukan seputar rumah. Bukan pekerjaan kantor. Saya orang yang acung jari duluan untuk protes ketika jenis pekerjaan harus dikotak-kotakkan. Bagi saya dan suami, kesepakatan ini kami tanamkan sejak dahulu, sejak anak-anak masih bayi, bahwa untuk mendidik anak-anak kami nantinya tidak ada cerita pemisahan pekerjaan untuk anak lelaki dan untuk anak perempuan.

Anak lelaki diharapkan harus bisa menyapu, memasak, mencuci piring, mencuci baju manual, menyetrika, memelihara tanaman sebaik anak perempuan yang harus belajar sehingga bisa mengendarai motor, menyupir mobil, mengosrek kamar mandi, mengganti lampu yang mati, serta bertukang.

Untuk belajar membantu, anak-anak dibiasakan merapikan mainan sendiri, Afra sedari kecil, usia 5 tahun juga sudah biasa membuat sarapan untuk keluarga, sarapan sederhana  yang terdiri dari susu UHT dicampur coklat bubuk dan roti isi keju lembaran atau selai coklat. Hanif dan Rifqi juga selalu kuajak membereskan mainan , membereskan belanjaanku sepulang belanja bulanan, masing-masing di tempat simpannya, serta merapikan tempat tidur mereka, menepuk-nepuk bantal, melipat selimut. Sekarang, Hanif sedang suka membuat telur ceplok sendiri, 2-3 kali dalam seminggu, makan malamnya ditambah lauk ceplok buatannya sendiri

Hasilnya lumayan, sampai sekarang kalau PRT pulang Lebaran, saya tidak kalang kabut kebakaran jenggot. Capek iyalah, pasti. Membereskan rumah tidak habis-habis, tapi setidaknya anak-anak dan suami membantu, jadi saya ngga merasa seperti PRT inval, PRT pengganti, hihihi.

Syukurlah saya dan suami satu kata, juga satu perbuatan, kalau tidak, anak-anak pasti bingung. Dan kenyataan bahwa suami juga konsekwen dengan kesepakatan ini, sangat melegakan ketika kami merantau. Alhamdulillah, tidak ada cerita suami enak-enak main game di depan PC sementara rumah berantakan, cucian piring menumpuk, anak-anak menangis karena belum makan, dan cucian segunung belum disetrika.

Hal demikian sering sekali saya lihat dalam kehidupan rekan-rekan yang sedang merantau. Kalau sang istri sehat, tidak masalah, cuma suka miris saja, melihat si istri sakit-sakitan, bahkan sedang mengandung pula, ditambah Balita yang juga rewel, suami masih menuntut bahwa makan siang dan makan malam harus selalu lauk segar ala Indonesia yang penuh bumbu. Kebayang kan kalau si istri bukan jago masak seperti saya? Menuntut rumah harus selalu rapih dari Utara ke Selatan. Untuk mendiskusikan secara personal, rasanya koq terlalu ikut campur urusan orang lain. Walau beberapa istri mulai sering curhat kepada saya via telfon untuk masalah berbagi pekerjaan ini. 

Akhirnya kami sepakat mengundang rekan mahasiswa beserta keluarganya untuk kumpul di rumah saya. Karena saat itu saya baru melahirkan (sekalian selamatan dan pengajian--walau yg hadir tidak harus semua yang Muslim--) maka urusan masak memasak diambil alih suami. Mulai dari bikin gulai daging, ketupat,balado telur, gulai nangka, dikerjakan beliau. Saya hanya kebagian membuat martabak dan menggoreng tahu serta kerupuk.

Karena teman-teman beberapa takut terlambat, mereka datang lebih cepat 30 menit, dimana kami masih bekerja berdua, mengepel lantai, menyikat kamar mandi, membereskan masakan. Teman-teman menunggu dulu di teras belakang  kami yang cukup luas, sambil menonton kami bekerja berdua...haha, koq seperti sirkus saja ditonton.

Teman-teman yang datang koq suka masakannya dan memuji enaknya makanan yang ada, saya bilang: "Wah itu pak Budi lho yang masak, bukan saya". Kwew kwew, beberapa melihat tidak percaya. "Pak masih sempat masak?"  Kata suami, "Sebenarnya, kalau ada kemauan dan ada resep masakan, mudah koq memasak, cukup diikuti step by step". Dan dimulai obrolan tentang bagaimana memasak lauk yang mudah dan cepat untuk para Bapak.

Setelah makan selesai, lebih  dari 25 set piring sendok garpu gelas terkumpul. Again, semua Bapak-bapak asyik ngobrol, suami saya memulai dengan menyingsingkan lengan, membereskan sampah, menyapu remah-remah dan mencuci piring gelas dan properti lainnya. Merasa tidak enak hati atau bagaimana, satu persatu para pria mulai membantu. Ibu-ibu kemana? Masih sibuk tentunya, menyuapi anak, menyusui bayi, menidurkan anak yang rewel.

Alhamdulillah, memberi contoh seperti itu, beberapa hari kemudian saya mendapat telfon. "Mba, si ayah sekarang sudah mau menyapu dan mengepel lantai loh" atau ada juga yang bilang "Mia, makasih ya,dikasih contoh pak Budi, sekarang suamiku udah mau bantu bikin lauk sendiri" dan juga para bujangan bilang " Mas Budi, masak itu ngga susah ya, jadi uang ngga habis untuk makan di restoran"

Ya...walaupun tidak 100% sukses, setidaknya sudah ada usaha bekerjasama membereskan pekerjaan rumah sehari-hari. Ada usaha dimana kita mau belajar dan belajar terus.

Updated terlupa

Kritik untuk para istri atau suami, kalau mau dibantu, jangan mengharap terlalu perfect, kasian pasangan kita. Kalau kita 100% perfectionist, ya kerjakan saja sendiri, jangan minta bantuan. Mencela hasil kerja pasangan, sangat tabu disini, lebih baik memberi contoh dengan bahasa halus, dan juga penilaiannya jangan seperti guru Ujian Praktek,kalau tidak pas langsung dapet E, failed. 

Kalau pasangan belum jago masak ya jangan diberi tugas memasak, bantulah mencuci peralatan masaknya. Kalau pasangan belum jago menyetir dan ngga sabar liat pasangan menyetir yang ngga canggih (seperti saya, haha, saya menyetir kalau lagi santai, kalau buru-buru, suami akan segera ambil alih) ya ikhlaskan, biar nanti pasangan memijat kaki kita yang pegal nahan rem serta kopling.


Blog EntryInspiring PeopleJan 12, '08 1:54 PM
for everyone

Udah lewat tengah malam, belum ngantuk juga, menemani suami yang masih sibuuuk kerja, jadi inget beberapa orang yang ulet dalam hidup. Mereka jadi inspiring people, dan anak-anak beberapa kali saya ceritakan perjuangan mereka. Demi kebaikan bersama, nama-namanya dirahasiakan. Belum tentu semua orang mau dan suka jadi celebrity di MP...hehe.

Yang pertama saya kenal sekitar 14 tahun lalu, lelaki kecil lulusan SMP yang menjadi cleaning service. Sambil bekerja di siang hari, di malam harinya dia mengambil sekolah persamaan setingkat SMA. Alhamdulillah, 3 tahun bekerja, ijasah SMA pun diterimanya. Ketika 5 tahun kemudian bertemu lagi, ternyata ia sedang melanjutkan sekolah di tingkat D3. Wah semangat betul anak ini, pikirku....sambil kuliah dia tetap menjadi cleaning service.

Lulus D3, Alhamdulillah, berkat kerajinannya belajar di bidang IT, dan kemampuan mengetiknya, sang cleaning service sekarang menjadi staf administrasi. Wah, sekarang dia berbaju lebih rapi, bukan lagi seragam cleaning service. Tapi anak ini masih saja sederhana, walau sudah mulai mencicil motor miliknya sendiri.

2 tahun lalu, saya bertemu lagi dengannya, surprising me, dan sekarang, ternyata dia melanjutkan lagi kuliah jenjang S1-nya. Salut saya, Masya Allah, dia bisa merubah nasibnya dengan ilmu. Cerita kehidupan anak ini belum selesai, siapa tahu, suatu hari nanti saya mendapat undangan pengukuhan Doktor dari dia. Who knows ?

Anak perempuan yang kedua, aku kenal karena bekerja di keluarga kami. Masih teringat, seorang anak perempuan kecil bertubuh tinggi bermata besar yang langsung melonjak kegirangan ketika mengetahui dirinya bisa melanjutkan sekolah tingkat SMA sambil bekerja di rumah tangga (PRT). Segera diminta ibunya mengirim ijasah SMP nya dari kampung.

Alhamdulillah, dengan cekatan dia bekerja di pagi hari, sementara di siang dan sore hari dia bisa melanjutkan sekolah. Sekolahnya lulus tepat waktu dengan hasil memuaskan. Teman-temannya juga tahu dia adalah PRT, karena beberapa teman-temannya sering berkunjung ke rumah (sang majikan) untuk belajar bersama.

Lulus sekolah, anak ini bekerja di sebuah kantor sebagai pegawai kecil. Induk semang berpisah dengan anak asuh ini karena pindah tugas keluar kota. Tapi, hubungan surat menyurat tetap berlanjut. Sampai suatu hari, 5 tahun perpisahan mereka, sang induk semang mendapat kabar, anak ini menikah dengan pegawai atasannya. Lalu menyusul, 10 tahun kemudian, sepucuk surat terimakasih datang, mengabarkan putra mereka sudah 4 orang. Mereka sudah punya rumah sendiri. Alhamdulillah, induk semang pun terharu.

Mas Budi dan saya sering berdiskusi, bahwa benar, kalau manusia mau berubah lebih baik, berbekallah dengan ilmu, itu yang lebih abadi.

Insya Allah postingan ini bermanfaat.

Siapa inspiring people versi teman-teman ? Pasti ada ya ? Silakan berbagi


Blog EntrySelamat Tahun Baru 1 Muharram 1429HJan 9, '08 12:01 AM
for everyone

9,8,7,6,5,4,3,2,1........

Selamat Tahun Baru semua,

1 Muharram 1429H, semoga semua keinginan, harapan, dan doa terkabul. Amiiin ya Robbal Alamiiin

*Dari Depok yang lumayan ramai oleh kembang api dan ramai dengan ceramah serta renungan tahun baru di beberapa mesjid*


Blog EntryKerendahan HatiOct 22, '07 11:11 PM
for everyone

Lagi googling puisi ini. Puisi dengan kata-kata yang "dalem" banget menurut saya. Kata-kata yang mampu mengembalikan optimis jika saya lagi down. Puisi yang membuat saya tidak lagi membandingkan diri saya dengan orang lain, kenapa saya begini, kenapa orang begitu dst. Puisi yang membuat saya 'kuat' disaat batre saya perlu dicharge.

Puisi yang setia menemani saya belajar (dulu saya tempel di meja belajar) selama sekitar 7 tahun,sejak SMA sampai kuliah. Bersyukurlah Kang Iwan Abdurachman, puisinya menjadi inspirasi banyak orang, mungkin tidak hanya saya yang suka. Terutama 2 baris terakhir:

Jadilah saja dirimu . . . .
Sebaik-baik dirimu sendiri


Bagaimana temans, ada yang suka juga?


Kerendahan Hati
gubahan : Iwan Abdurachman

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
yang tegak di puncak bukit
Jadilah saja belukar, Tetapi . . . .
Belukar yang baik, yang tumbuh ditepi danau.

Kalau engkau tak sanggup menjadi belukar
Jadilah saja rumput, Tetapi . . . .
Rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan.

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya,
Jadilah saja jalan kecil, Tetapi . . . .
Jalan setapak yang membawa orang ke mata air.

Tidak semua menjadi Kapten,
tentu harus ada awak kapalnya.

Bukan besar kecilnya tugas yang
menjadikan rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu . . . .
Sebaik-baik dirimu sendiri


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.