Kemarin, saya ke bengkel karena spion kanan mendadak lepas dari bingkainya. Sudah dicoba diakali dengan berbagai cara, tetap aja tidak mau pas. Tiap buka tutup pintu mobil, lepas lagi. Ya sudah...mobil kubawa ke bengkel.Sebetulnya, kalo boleh memilih lebih baik ke toko buku daripada ke bengkel,it wasn't my favourite place, panas, BT, lama lagi nunggunya. Tapi pabolehbuat, mobil mau dipakai besok, jadi harus fit.
Saya memilih bengkel yang cukup besar di Margonda, pertama masuk, saya sudah tanya, bisa memperbaiki spion? "Bisa Bu" kata petugasnya. It's OK. Sambil menunggu saya membaca, eh ternyata ruang tunggunya ber AC, ada TV, sofanya empuk dan ada beberapa koran (tapi tidak ada majalah). Ada juga musholla dan WC yang cukup bersih. Lumayan juga, pikir saya.
Satu jam menunggu, spion sudah OK kata petugas. Tapi betapa kaget saya melihat, spion memang sudah terpasang pada bingkainya, tapi...ada retak di ujung kanan atas, yang cukup mengganggu pemandangan. Dengan entengnya, petugas bilang: "Karena kesalahan pemasangan kami, Ibu dibebaskan ongkos pemasangan". Duh..mau marah, tapi shaum. Akhirnya saya bilang, harus ganti baru, toh dari awal saya sudah tanya mereka bisa pasang atau tidak. Kalau memang tidak bisa, saya bisa cari bengkel lain.
Saya masuk kembali ke ruang tunggu, mereka bilang bisa ganti, harga spion 475 ribu, dan mereka minta kebijaksanaan saya untuk menanggung separuh harga spion. Lha..memang salah saya? Saya bilang,tidak mau, saya hanya mau menanggung ongkos pemasangan. Setengah jam kemudian, mereka datang dengan opsi baru, saya menanggung sepertiga harga saja, tidak usah bayar ongkos pemasangan.
Tidak mau berpanjang kata, apalagi dalam kondisi shaum, ya sudah, saya terima saja opsi mereka. Setelah 4 jam menunggu, spion sudah selesai. Lama juga ya, 2 jam untuk menunggu spion baru yang mereka beli di tempat lain. Alhamdulillah...cukup fair saya membayar 150 ribu rupiah untuk sebuah spion baru.
Rejeki atau musibah ya namanya?