mia's posts with tag: kontemplasi
Inna lillahi wa inna illaihi ro'jiuun..Saya melayat pagi hari tadi, bapak tetangga yang wafat tanpa sakit lebih dahulu. Hanya jatuh, kemudian berpulang dalam pelukan Allah SWT. Masih muda, belum lagi 55 tahun. Tidak menyakitkan untuk yang pergi, tapi memedihkan sangat untuk keluarga yang ditinggalkan. Dalam bulan ini sudah berapa kali saya menerima kabar dukacita, belasan kali, tetangga,saudara, teman semasa sekolah, serta tentunya keluarga teman di MP. Ada keluarga dekat saya, waktu seorang Om wafat, seorang Tante saya, Tante A melayat, kemudian 3 hari berselang si tante A ini pun berpulang. Cerita kedua, kematian suami rekan saya, disertai penyakit Aneurisma, pelebaran pembuluh darah di otaknya. Terakhir kami bertemu, Juni 2007, saat itu, saya sudah tau suaminya sakit, kemudian kami hanya telfon dan sms saja. Betapa saya kecolongan, bulan lalu suaminya wafat, padahal Januari 2008 saya masih telfon, dan minta dikabari perkembangan suaminya. Ya Allah, menurut cerita si istri, suaminya sabar sekali dalam sakitnya, tidak pernah mengeluh, walau sakit mendera dan obat pereda rasa sakit hanya menahan sakitnya selama 2 jam, walau penglihatannya dari ke hari berkurang hingga berkurang 100% menjelang akhir hayatnya. Bahkan, si suami masih suka bercanda, serta sangat siap selalu berdzikir dan berdoa menjelang saat nya tiba. Bukan tidak ada usaha untuk operasi, tetapi, mengingat biaya (3 dokter di 3 RS Swasta menyarankan operasi di Jepang, asuransi kesehatan sang suami tidak menanggung pengobatan ke Luar Negeri dan suami ini tidak mau meninggalkan hutang jika ia wafat) serta dokter pun berkata, operasi tidak bisa mengembalikan fungsi penglihatan, yang artinya, suami ini tidak bisa untuk bekerja kembali. Akhirnya mereka memilih siap secara alamiah, dan hanya membuat pasien nyaman lahir dan bathin dari hari ke hari menjelang berpulangnya. Malahan saya yang menangis mendengar cerita dia. Si istri ini tak kalah tegarnya dari sang suami, saya jadi malu hati. Sama sekali tidak mendramatisir cerita. Anaknya pun, ketika ayahnya wafat, karena sudah disiapkan bahwa ayahnya sakit keras, bisa menerima juga. Atau, untuk bocah 3,5 tahun, apakah sebuah kematian masih abstrak? Puncak kesakitan sang suami 20 Januari, diperkirakan pembuluh darahnya sudah pecah, untuk kemudian berpulang di awal Februari. Kami pun berpisah diiringi sebungkah do'a dan pelukan saya untuk ia dan keluarga, semoga tabah menapaki hari demi hari di usianya yang belum lagi 32 tahun. Hujan deras di Depok, seolah ikut menangis, mengiringi cerita wafatnya 2 orang yang saya kenal, hari ini. Rasanya, bekal saya belum cukup juga jika suatu hari Allah berkenan memanggil saya. Ya Allah, mudahkanlah saya untuk lebih baik lagi dari hari ke hari. Amiin ya Robbal 'Alamiiin
Udah 99 hari bersama Multiply, Alhamdulillah, nambah banyak temen, banyak pengalaman yang bisa diambil dari tiap orang. Apapun pengalaman itu....Pernah sehari, ada 5 yg melamar jadi teman, cewe semua, eh ternyata mereka 1 kantor. Seneng nambah adik, nambah kakak, nambah ibu, nambah tante :) Ohya, jadi ketemu teman lama, teman SMA, teman kuliah. Tapi blum ketemu tetangga :) hehe, masa tetangga ketemu di MP juga, garing amat yaks :) Yang aku suka, di Multiply kalo mau komentar harus ikutan Multiply juga,ngga bisa komentar anonymous, jadi (semoga) terhindar dari teman maya yang tidak berniat baik. Selain itu, ada profil, ada foto, ada artikel, menandakan orang-orangnya beneran . Bukan jadi-jadian...hiiiy Trimakasih temans semua, sudah saling berbagi :)
Sumber : Kompas Cetak 17 Desember 2007 Elang: Mana Rumah untuk Si Miskin? Stefanus Osa Triyatna Keserakahan sebagian besar pemilik modal di negeri ini sudah tidak terbendung lagi. Rumah untuk si miskin di ujung perbukitan yang jauh dari keramaian kota, bahkan boleh dibilang rumah terpencil, yang kini mendapat subsidi pemerintah pun sangat diminati konglomerat. Alasannya hanya satu kata, "investasi" masa depan. Padahal, kalau dipikir-pikir, tidak mungkinlah seorang berpenghasilan besar yang biasa bergelimang harta bakal melirik rumah mungil di pedesaan terpencil. "Kalau keserakahan terus yang terjadi di negeri ini, kapan jutaan orang miskin bakal memiliki rumah?" tanya Elang Gumilang (22), peraih penghargaan Wirausaha Muda Mandiri (WMM) terbaik 2007, yang diselenggarakan Bank Mandiri. Kegelisahan itu diungkapkan Elang di sepanjang perjalanan dari kampusnya, Institut Pertanian Bogor (IPB), menuju proyek rumah sederhana sehat (RSH) di Ciampea, Kabupaten Bogor, Jumat (14/12) sore. Elang adalah anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan H Enceh dan Hj Priyanti. Tubuh kecil lelaki kelahiran Bogor, 6 April 1985, itu terlihat energik mengamati struktur bangunan rumah-rumah mungilnya. Bukan hanya gerak tubuhnya yang lincah, cara bercakap Elang pun sangat cepat. Di tengah hujan lebat, Elang mengisahkan berbagai perjalanan jatuh bangun kehidupannya merintis usaha properti kecil-kecilan ini. "Ini usaha kecil-kecilan karena sebetulnya saya memiliki impian besar, bagaimana orang-orang muda seperti saya ini bangkit bersama membangun negeri ini," ujar Elang. Bagaikan burung Semangat entrepreneurship atau kewirausahaan seakan tercermin dari perjalanan hidup Elang. Bagaikan burung yang selalu ingin terbang mengepakkan sayapnya setinggi mungkin, Elang tak pernah melupakan untuk melihat Bumi. Bagi Elang, seluruh perjalanan hidupnya yang dibilang sukses meniti karier saat masa studinya yang hampir rampung di Fakultas Ekonomi Manajemen IPB hanyalah kebetulan belaka. Semangat kewirausahaan itu ternyata sudah dimulai sejak masa sekolah menengah umum (SMU). Tahun 2000, sambil menikmati masa-masa indah sekolahnya, Elang sudah berpikir untuk bisa memiliki uang dari hasil jerih payahnya sendiri. Diam-diam Elang berkeliling menjadi penjaja kue donat dan roti. Lumayan juga, setiap hari dia bisa mengantongi setidaknya Rp 50.000. Setiap hari 10 boks donat, masing-masing berisi 12 buah, dan beberapa roti dibawa ke sekolah untuk ditawarkan ke teman-temannya. Namun, kegiatan iseng-iseng itu tanpa disangka akhirnya ketahuan orangtuanya. Kemarahan orangtuanya tidak membuat Elang berkecil hati. Semangat kewirausahaan itu seakan mendesak untuk terus direalisasikan. Secara kebetulan, begitulah Elang berulang kali menyebut perjalanan hidupnya, prestasinya yang gemilang membuat kemenangan-kemenangan diraih. Kemenangan yang diraih Elang, antara lain, juara pidato bahasa Sunda se-Kota Bogor tahun 2000, juara harapan pertama Lomba Cepat Tepat Sri Baduga se-Jawa Barat, dan kemenangan yang tak pernah dilupakannya adalah juara Java Economics FEM IPB se-Jawa 2003. Lumayan juga semua kemenangan ini karena setiap kemenangan selalu bernilai rupiah yang cukup membuatnya semangat. Elang pun menjadikan uang itu sebagai modal untuk kuliah. Bahkan, sebagian uang itu digunakan Elang untuk modal berjualan sepatu. Namun, usaha ini hampir membuatnya habis-habisan karena dia hampir saja tertipu jutaan rupiah. Semakin dewasa bertumbuh, Elang semakin mengubah arah tujuannya. Di masa-masa kuliah Elang bukan hanya berpikir bagaimana bisa menghidupi dirinya sendiri, tetapi mulai mengajak rekan-rekan sekampusnya untuk sama-sama merebut kesuksesan. Sekali lagi, menurut Elang, semua ini serba kebetulan. Alhasil, gagasan-gagasan kewirausahaannya pun mudah diterima rekan-rekan sekampusnya. Selain bisnis properti kecil-kecilan, mulailah dia merintis usaha kursus bahasa Inggris di lingkungan sekitar kampus IPB. Elang pun tanpa sungkan mengisahkan dirinya pernah menjadi pemasok lampu di kampusnya. Modalnya cuma daftar harga yang diperoleh dari salah satu pabrik lampu terkenal. Kerja dengan otot mungkin lebih banyak digunakan daripada dengan otak. Begitulah Elang ketika mengisahkan masa-masa kuliahnya yang sebagian digunakan untuk berjualan minyak goreng. Puluhan jeriken dicuci bersih, diisi minyak goreng curah, lalu dikirim ke Pasar Anyar dan Cimanggu, Bogor. "Tapi bagi saya, yang paling unik tetaplah merintis pembangunan rumah untuk rakyat miskin," tegas Elang. Awalnya diremehkan Deretan rumah mungil yang didirikannya bersama lima temannya itu sebenarnya diperuntukkan bagi keluarga-keluarga miskin, terutama warga di sekitar perkampungan itu. Subsidi dari Kementerian Negara Perumahan Rakyat membuat rumah seluas 22 meter yang berdiri di atas lahan 60 meter persegi dapat ditawarkan cuma Rp 25 juta dan Rp 37 juta per setiap unit. "Murah banget, tetapi lucunya orang-orang kota juga sangat berminat terhadap rumah-rumah ini, bahkan tahap awal pembangunan 45 rumah sudah habis terjual," ujar Elang. Susahnya berurusan dengan bank dirasakan pula oleh Elang. Sebagai mahasiswa biasa, perbankan tampaknya enggan memberikan bantuan modal. Padahal, prospek usahanya diyakini sangat jelas, rumah selalu saja ada permintaannya. "Itulah nasib orang muda. Mereka sulit diberi kesempatan untuk merintis sesuatu yang dinilai mulia. Orang bank bilang, lebih baik kami kasih modal ke tukang gorengan daripada ke mahasiswa," kata Elang, menirukan ucapan seorang staf sebuah bank. Tak ada rotan, akar pun jadi. Tanpa kenal menyerah, akhirnya Elang mengajak patungan teman-temannya. Hasilnya, dengan modal Rp 340 juta, mereka merintis pembangunan rumah sehat sederhana. Sekali lagi, rumah-rumah yang dibangunnya itu mendapat dukungan subsidi dari pemerintah karena fokus perhatiannya adalah untuk si miskin berpenghasilan rendah. "Kita bisa menjadi pengusaha sejati kalau bisa dipercaya oleh rekan terdekat kita. Karena itu, tanpa bantuan perbankan, usahanya mulai beralih menjadi semacam perusahaan terbuka. Modalnya, ya siapa yang mau ikutan patungan, ya silakan saja. Keuntungannya pasti bisa dibicarakan," ujar Elang. Dari penjualan rumah yang sedikit demi sedikit itu, modalnya diputar kembali untuk membebaskan lahan di sekitarnya. Rumah bercat kuning pun satu demi satu mulai berdiri. Belakangan ini Elang justru dijuluki "Juragan RSS" ala Bogor oleh penduduk setempat. Menurut Elang, andaikan semua orang muda mau bergerak memikirkan kebutuhan masyarakat miskin, tentu di negeri ini akan banyak tumbuh wirausaha muda. Yang pasti, lapangan pekerjaan pun akan semakin terbuka lebar. Siapa yang akan peduli lagi?
Tulisan ini dibuat untuk mengingat 2 orang suami yang benar-benar pria yang ikhlas. Saya sendiri tidak pernah kontak lagi dengan mereka berdua, (akhirnya 2 pasang suami istri) waktu dan jarak, bahkan dimensi telah memisahkan kami. Tulisan saya mungkin tidak bisa mendeskripsikan 100%. Tapi kisah ini nyata dan semoga bisa diambil hikmahnya. Semua nama dibawah ini adalah samaran, bukan nama sebenarnya 1. Saya tidak punya harapan hidup Saya mengenal Ita, sebut saja namanya demikian, sekitar 10 tahun silam. Mahasiswi sholehah, cerdas, yang akan menyelesaikan skripsinya. Aktif di senat mahasiwa, aktif beladiri, IPnya pun bagus sekali. Mencari rezeki sendiri dengan memberi les privat bagi anak usia SD dijalaninya sejak semester 2 kuliah.Menjelang penulisan skripsi, dia mendapat vonis berat. Ita terkena Kanker Payudara stadium 2, bagai palu godam menghantam, rasanya vonis mati tidak jauh darinya. Ditambah lagi, perekonomian keluarganya tidak terlalu bagus. Ayah-ibunya hanya sanggup mendoakan anaknya yang selangkah lagi menyelesaikan kuliah. Ita bergantung sepenuhnya pada beasiswa dan hasil memberi les. Uang yang tidak seberapa banyak, yang menopang kuliah dan biaya hidupnya selama ini. Jika dia menderita sakit, darimana uang untuk berobat, ayahnya hanya seorang buruh dengan penghasilan tidak tetap. Ita menceritakan masalahnya pada sepupunya, seorang pria bernama Andi. Andi, ikut sedih dan menceritakan masalah Ita kepada rekan-rekannya, yang kebetulan, beberapa orang masih lajang. Salahsatunya yang mendengar cerita Andi adalah Fauzan. Kebetulan, Fauzan yang lajang,sudah bekerja dengan posisi bagus, supervisor, penghasilannya cukup dan ia memperoleh asuransi kesehatan dari kantornya, bahkan jikalau Fauzan menikah, maka anak dan istrinya tentu memperoleh fasilitas asuransi juga. Singkat cerita Fauzan memutuskan kan menikahi Ita. Semata-mata mencari keridhoan Allah, bukan karena kecantikan, kepandaian ataupun kekayaan Ita. Walaupun Andi sudah menceritakan kondisi Ita, kondisi penyakitnya. Fauzan bersikukuh menolong Ita,dengan menikahinya sehingga bisa berobat dengan baik agar penyakitnya tuntas. Menikahlah mereka dengan sederhana. Wajah Ita terlihat berbinar dan tidak tampak sakit samasekali di hari pernikahannya. Alhamdulillah juga, Fauzan mendampingi Ita berobat, dengan asuransi yang dimilikinya. *Walau saya sendiri kurang faham, apakah jika seseorang sudah terdeteksi memiliki satu jenis penyakit (disini Kanker payudara) apakah dicover oleh perusahaan asuransi? Mungkin pembaca yang lain lebih mengerti ?* Sampai suatu hari, memasuki 1 tahun usia pernikahan,Ita, Fauzan dan Andi datang ke rumah orangtuaku. Memang, Bapak sering dijadikan konsultan kesehatan oleh teman-teman saya. Apalagi jika ada yang memerlukan bantuan, untuk operasi tapi tidak ada biaya, maka Bapak dengan senang hati akan memberi bantuan dengan menihilkan jasa dokter pada biaya operasi. Mereka bertiga memberitahu berita baik, bahwa Ita sudah mengandung 3 bulan. Alhamdulillah.... Kami putra-putri Bapak, yang kenal dengan ketiganya, langsung memberi selamat dan bersyukur. Tapi Bapak hanya terdiam, tersenyum tipis dan sesekali menghela nafas berat. Hmmm , rasanya ada yang disembunyikan beliau. Karena selaku Chirurg beliau pasti sangat faham melihat deretan lembar-lembar hasil pemeriksaan Ita yang ikut dibawa. Tidak lupa Bapak berpesan agar Ita dan Fauzan banyak banyak berdoa untuk kesehatan Ita dan bayi yang dikandungnya. Sepulangnya Ita, Fauzan dan Andi, saya yang melihat perubahan airmuka Bapak, langsung bertanya, bagaimana hasil pemeriksaan Ita? Bapak berkata bahwa sudah terjadi penyebaran, Metastase sel-sel kanker, yang sayangnya, karena Ita sedang mengandung, justru memicu sel kanker mengaktifkan dirinya. Ah, saya, ikut trenyuh dan juga hanya bisa membantu dengan doa. Semoga semua yang terbaik untuk Ita dan Fauzan serta calon bayi mereka. Yang terbaik dari Allah SWT akhirnya datang juga, di usia kehamilannya yang memasuki bulan ketujuh, Ita tidak kuat lagi dengan penyebaran sel kanker ke paru-parunya. Ita lebih disayang Allah SWT. Fauzan yang ikhlas menikah dengan niat membantu menanggung biaya berobat Ita, akhirnya harus berpisah dengan istrinya tercinta. Ita pergi dengan kebahagiaan, setelah ikhtiar berobat kesana kemari. Setelah diamanati Allah janin kecil yang juga turut berpulang ke Rahmatulloh di usianya yang memasuki bulan ke tujuh. Innalillahi wa Inna Ilaihi Roji'un. Setelah Ita wafat, saya tidak lagi mendengar kabar Fauzan. Semoga, semua kebaikannya dibalas oleh Allah SWT. 2. Mbak, Pria itu Mundur Lagi Cerita kedua adalah cerita "adikku", cerita di kurun waktu yang sama sekitar 10 tahun silam. Setelah lulus kuliah dan bekerja menjadi pengajar, tentu saja harapan seorang wanita, antara lain, adalah menikah. Arina,"adikku" tidak mau berpacaran. Prinsipnya, kalau ada lelaki yang ingin menikahinya, silakan datang kepada orangtuanya untuk meminang secara langsung. Sebetulnya sudah 3 kali Arina dilamar, tetapi ke 3 orang mundur semua karena satu hal. Arina memiliki beberapa kista di ovariumnya, dan sedang dalam pengobatan dokter. Semua pria dan atau keluarga mereka (ayah atau ibu sang pria) mundur teratur begitu mendengar pengakuan Arina, bahwa kemungkinan terburuk baginya adalah amat sangat sulit memiliki keturunan. Akhirnya, setelah Arina lelah menerima penolakan, datanglah Amru. Arina, yang lelah menaruh harapan, langsung mengatakan penyakitnya kepada Amru pada acara perkenalan pertama mereka. Tak dinyana, Amru berkata bahwa tidak ada masalah untuknya, walaupun mereka tidak memiliki keturunan. Alhamdulillah hanya beberapa minggu setelah Amru meminang Arina kepada orangtuanya, mereka pun menikah. Saya yang datang ke pernikahan mereka mendoakan dengan tulus, semoga pengobatan Arina bisa tuntas, BarakalLahu untuk mereka. Bukankah untuk Allah SWT tidak ada hal yang mustahil ? Singkat kata, dalam hitungan bulan setelah mereka menikah mereka berdua pindah kota mengikuti tugas Amru di Kalimantan. Idul Fitri 6 tahun lalu, datang telfon dari nomer tak kukenal, yang langsung berteriak keras " Assalamu'alaikum Kak Mia, ini Arina". Rupanya mereka berlebaran di Jakarta, di tempat orangtua Arina. Subhanallahnya, memasuki tahun ke-2 pernikahan, mereka dikaruniai berita gembira, Arina mengandung. Dan di tahun ke 4, putra mereka bertambah lagi. Terakhir kami bertukar sapa 6 tahun silam, sudah 2 orang putra Arina dan Amru. Maha suci Allah...apapun yang Beliau kehendaki "Kun" terjadi maka terjadilah. Manusia wajib berikhtiar, hasil akhir tetap pada Allah SWT. Walau divonis sulit memiliki keturunan, ternyata Arina dan Amru memperoleh keturunan juga. Amru yang ikhlas menikah semata-mata mencari ridho Allah, adalah suami yang ikhlas, menyerahkan segala keputusan pada Allah SWT. Bukan pada manusia.... Semoga bisa diambil hikmahnya.
| |