Sabtu pagi, majalah wanita dateng...ada artikel dgn tema "Suamiku Nyaman Jadi Parasit". Saya rasanya sudah berkecamuk dialog-dialog di otak, mau nulis sejak Sabtu siang, tapi mesti kesini kesitu, ngurus 2 anak satu mau masuk SD, satunya mau masuk SMP dan ada acara silaturahmi, dll, baru sempet nulis sekarang.
Wah...nggak tau mau komentar apa, terkesiap banget saya membacanya. Ternyata ada beberapa fenomena baru dimana ada beberapa Wanita yang punya jabatan strategis, baik di BUMN, swasta, multinasional punya satu rahasia yaitu suami mereka jobless.
Seorang konsultan SDM mengatakan ada perusahaan swasta besar di Jakarta yang hampir setengah karyawatinya mengaku bahwa suaminya tidak bekerja. Majalah tersebut juga membuat survei kecil2 an,dari 50 responden, 20% mengaku memiliki kenalan wanita karier yang sukses, minimal di posisi manager yang suaminya tidak bekerja.
Twew-wew wew, kaget saya, karena saya sendiri tidak pernah punya pengalaman seperti itu. Duh duh...semoga engga deh. Karena yang lebih menyebalkan, para "suami parasit" demikian kata artikel, umumnya berusia muda dan produktif (<40thn) dan mereka menuntut gaya hidup "borju" pada sang istri, semisal menjadi member klub golf (berapa sih jd member, aye nggak ngerti, puluhan atau ratusan jeti?), minta kartu kredit platinum , dan harus punya mobil keluaran tahun terakhir.
Tetapi di satu sisi, mereka tetap suami konvensional, yang tidak mau berbagi tugas domestik dengan istri. Taruh kata memang sang suami tidak bekerja, tapi memberi perhatian besar pada pendidikan dan kesehatan anak-anak mereka, tentunya akan lain ceritanya. Mungkin sang istri tidak terlalu keberatan.
Ada 3 responden, salahsatunya direktur marketing (wanita, 36 thn) yg sedihnya, sudah suaminya nganggur, suaminya hobi berhutang. Suatu hari beberapa debt collector datang kerumahnya, menagih cicilan 5 kartu kredit. Padahal tiap bulan sang istri memberi uang untuk mencicil kartu kredit tersebut. Lain waktu ketika anak mereka sakit, suami tidak mau mebawa ke dokter dengan alasan tidak ada uang, padahal ada kartu kredit. Walaupun sudah menikah 10 tahun dan dalam agama mereka tidak boleh bercerai, sang perempuan memutuskan akan mencari jalan untuk berpisah dari sang suami.
Responden lain, dokter,37 thn mengatakan dia sudah kehilangan muka, karena suami ikut klub mobil merek tertentu dan setiap tahun "memaksa" istrinya menukar mobil suami dengan keluaran terbaru merk mobil tersebut. Selain itu, sang suami suka berjudi dan berhutang, bahkan kepada tukang rokok dekat rumah pun berhutang 2 juta rupiah. Puncaknya terjadi ketika sang suami memukul, sang istri betul betul berpikir untuk berpisah.
Adriana Ginanjar, psikolog dan konsultan perkawinan, mengatajan para suami itu tidak sepenuhnya malas, tapi setelah tidak bisa mengejar ketinggalannya, apalagi jika istrinya sudah jauh melejit, maka mereka berdalih bahwa, tugasnya mendukung karier istri saja. Dan karena secara finansial tidak ada masalah,mereka tidak terpacu mencari pekerjaan.
Mereka lebih suka menerima kondisi serba beres dari sang istri tersebut. Pendapat Adriana sejalan dengan penelitian Mohtar Lubis, ada 12 ciri manusia Indonesia, salah satunya : lebih suka tidak bekerja keras kecuali terpaksa.
Syafiq Hasyim, deputi direktur International Center for Islam and Pluralism berpendapat : Kalau istri dipaksa bekerja dan suami enggan memberi solusi, bahkan menolak saat istri mengajukan cerai, bisa dikategorikan KDRT (Kekerasan dala Rumah Tangga) yaitu kekerasan ekonomi. Kekerasan terjadi karena suami memaksa istri melakukan hal yang bukan menjadi tanggung jawab utama sang istri.
Ratna Batara Munti, pengurus LBH APIK, mengatakan, tidak memberi nafkah materi pada istri , maka suami melanggar UU Perkawinan,no 1 thn 1974 pasal 1 dan 34, dikatakan bahwa kepala rumah tangga adalah laki-laki yaitu suami. Suami punya tanggung jawab utama untuk menafkahi istri dan anak-anaknya, sementara tanggung jawab utama istri sebagai ibu rumah tangga. (Semua dari majalah Femina no48/2007)
Mmmm...Alhamdulillah hal ini ngga terjadi pada saya,jangan sampai deh, saya ngga tahu mau dikemanakan respek saya kepada suami, yang notabene adalah imam / pemimpin rumah tangga. Alhamdulillah mas Budi selaku pencari nafkah utama dalam keluarga kecil kami. Kalaupun saya bekerja part time, atau ada keuntungan dari bisnis kecil-kecilan, atau tulisan saya ada yang dimuat di majalah, maka uang tersebut akan menjadi milik saya seutuhnya. Ya...tapi dipake untuk traktir suami dan anak-anak juga :)
Semoga artikel ini jadi bahan diskusi baru buat kita