Blog ini terinspirasi dari milis yang ramai berdiskusi soal ini. Tulisan ini hanya pengalaman pribadi semata, maaf jika ada tulisan yang kurang berkenan.
4 tahun SD swasta,2 tahun SD Kristen dan 2,5 thn di SMP Katolik Frateran, membuat saya tidak tau benda apa jilbab itu. Di SD Kristen dulu, sebelum mulai belajar, selain berdoa, kami harus menyanyi lagu rohani yang berbeda tiap harinya, belum lagi, saya adalah salah satu dirigen paduan suara lagu rohani di kelas.
Di SMP yang berbatasan langsung dengan wisma Frater (calon Pastor) mayoritas lingkungan kegiatan saya di OSIS SMP dihabiskan disana, jadi tidak aneh saya selaku ketua OSIS sambil rapat OSIS, di ruang sebelah, saya melihat dan mendengar Frater sedang training kerohanian dengan Pastor. Pelajaran Budi Pekerti yang saya dapat untuk menggantikan Pelajaran Agama Katholik di kelas pun banyak menyitir ayat dari Kitab Suci.
Di SMA pun, ekskul saya PMR dan beladiri, bukan Rohani Islam/ Rohis, walau ada beberapa teman Rohis yang dekat dengan saya. Jadi ketika suatu hari ada Pengajian Pesantren Kilat 3 hari untuk mengisi libur semester akhir tahun 1988, dan karena rumah orangtua saya dikenal sebagai markas anak-anak (tapi kebanyakan anak beladiri, anak PMR dan lainnya yang sering bermarkas disini) maka saya diajak ikut serta.
Awalnya...waaah...aneh sekali melihat kakak-kakak alumni yang sudah kuliah di beberapa PTN,mereka memakai sehelai kain menutupi kepala sampai dada dengan beberapa peniti. Bajunya pun jauh dari modis, berupa gamis (gaun terusan berlengan panjang), yang umumnya berwarna sendu, kelabu, hijau lumut, coklat. Untuk pertamakalinya saya melihat pemakai jilbab dan gamis. Jam demi jam, materi yang diberikan sangat menyenangkan untuk hati, Hakekat Penciptaan Manusia, Cinta kepada Allah, Cinta kepada Rosul, Bersaudaranya sesama Manusia, Belajar dari Alam, Hakikat Waktu, sampai materi teakhir, Muhasabah (introspeksi diri).
Materi tentang introspeksi ini yang membuat saya berpikir beberapa kali, memakai jilbab untuk Muslimah tertera dalam surat An Nuur
Dan hendaklah (para wanita) mereka menutupkan kain kudung kedadanya (QS. An-Nuur: 31)
Kakak-kakak itu tidak pernah memaksa, hanya mengajak. Saya sendiri beberapa bulan setelah Pesantren Kilat itu, belum juga berjilbab, tetep tomboy, pakai rok hanya rok seragam, tetap kaos celana panjang, tetap jadi anak yang rame, banyak teman, rajin kemping, rajin PMR, tetap ikut beladiri, aktif ekskul. Saya yang ngga hobi berenang, ngga bisa lancar renang malahan. Jadi saya tidak terlalu berat berjilbab dibandingkan teman yang masih berat berjilbab karena hobi berenang.
Akhirnya, di pertengahan tahun 1989, ketika saya sembuh sakit beberapa teman SMA yang lebih dulu berjilbab, rajin membesuk,saya dikasih kado 2 jilbab putih tapi memakainya pun saya belum bisa, penitinya mesti ditusuk kemana, jilbabnya mesti dilipat bagaimana? Baju panjang pun saya belum punya, koleksi baju mayoritas hanyalah kaos, jeans, dan satu dua rok selutut. Berdua dengan adik, kami pun mulai beli satu dua kemeja kotak kotak tangan panjang, persis kemeja teman-teman pencinta alam.
Habis dikasih kado itu lalu saya pakai jilbab? Belum, hehehe, ulang tahun ke 17 di bulan Juni saya rayakan dulu, sekalian syukuran sembuh sakit. Bajunya? Ya rok blus biasa, rok selutut, blus tangan pendek warna pink. Keinginan memakai jilbab sempat menguap beberapa lama saat itu.
Kemudian keinginan berjilbab muncul kembali. Bapak Ibu ketika diberi tahu melarang keras, kuatir anaknya terbawa aliran Islam ekstrim. Seorang Bude melarang, katanya, masih remaja koq pake kerudung kaya orang tua, nanti ngga laku, ngga ada yang mau sama saya. Seorang eyang juga panik berat, karena memang di keluarga besar, baru saya dan adik yang berkeinginan seperti ini. Keinginan ini baru sebatas dalam hati, masih maju-mundur-maju mundur selama 1,5 tahun ke depan, dari akhir 1988 sampai awal tahun 1990.
Keluarga saya adalah keluarga Islam kebanyakan. Abangan kalau istilah Jawa, Islam dipahami sebatas ritual Shalat, Puasa, Zakat, pergi Haji. Sulit sekali jika menyitir ayat, pendapat tersering adalah istri Ustad ini atau Kyai anu juga ngga berjilbab. Duh Gusti Allah, bagaimana ini? Saya sedikit banyak terpengaruh juga dengan semua pendapat itu.
Akhirnya, setelah menguatkan hati, pendekatan siang malam ke orang tua, Ibu akhirnya luluh, dengan syarat, kalau udah pake ngga boleh lepas jilbab. Ibu sendiri belum berjilbab saat itu. Bapak memperbolehkan dengan syarat berat untuk saya. Boleh pakai jilbab, tetapi harus lulus UMPTN. Hadoooh, gimana niy? Ambil ngga tantangan ini? Saya prestasinya sangat biasa di kelas, tidak pernah masuk 5 besar, sesekali kalau hoki, masuk 10 besar di kelas, selebihnya? Ranking belasan lah, hehehe.
Bulan Maret 1990, keinginan itu sudah membuncah, pakai sekarang, dengan sebuah niat baik, tekad bulat, maka saya dan adik berdua memakai jilbab, masih aneh, karena saya memakainya dengan blus kotak kotak panjang dipadu kulot sebetis ditambah kaos kaki selutut.Iya, kaos kaki putih yang biasa dipakai teman-teman Paskibra. Dipakai pertama kali ke kursus bahasa di LIA Slipi. Satu dua teman memandang aneh dengan pakaian saya.
Siangnya (saya masuk sekolah siang, jam 1) saya dan adik juga pakai jilbab ke sekolah. Saat itu tidak boleh pakai rok panjang, jadi rok masih selutut, ditambal dengan kaos kaki, blus tangan panjang, ditambah jilbab putih. Beberapa teman memberi selamat, beberapa teman, pria dan wanita protes, komentarnya :"Yaaa, Mi, elo bakalan jaim deh, elo ngga asik lagi deh, ngga bisa maen bareng dan ngobrol rame lagi". Menghadapi serbuan komentar begitu, saya gelagapan. Belum lagi, 2 jam kemudian saya dipanggil ke kantor guru. Disidang.

Waaaaks, mati deh, pikir saya. Bener juga, kiamat kecil datang, beberapa teman berjilbab dan juga adik saya, dipanggil. Diceramahi dari Utara Selatan, dari Barat ke Timur. Bahkan ketika kami mencoba menjawab bahwa itu adalah hak asasi manusia, selalu terbentur kenyataan bahwa pemakaian jilbab belum legal di sekolah. Ya, para guru itu benar sekali. Akhirnya, kompromi didapat, kami tidak dikeluarkan dari sekolah, jika mau melepas jilbab jikalau ada guru yang keberatan jika ada murid berjilbab di kelas.
Masa ini merupakan masa penuh perjuangan, sedih bercampur malu, selesai masalah dengan orangtua, muncul masalah dengan guru. Di tahun 1990 saat itu, jilbab belum legal di tingkat SMA dan SMP. Jadilah kami harus kucing-kucingan, karena ada beberapa guru yang amat sangat keberatan dengan pemakaian jilbab. Begitulah, masa ini cukup berat buat saya dan kawan-kawan. Kadang ingin menyerah, karena malu juga, masa' satu jam pake jilbab, untuk kemudian 2 jam pelajaran jilbab ini harus dibuka dahulu?
Alhamdulillah, beberapa teman pria dan wanita yang simpati tidak hanya dari ROHIS, tapi juga ekskul lain, teman-teman PMR, beladiri, Pencinta Alam juga, ikut melobi para guru, dengan berbagai pendekatan. Dari 60% guru yang melarang murid berjilbab, tinggal 20% yang keberatan mengajar kalau kami pakai jilbab di kelas. Untuk olahraga pun, kami bisa sukses, melobi guru olahraga, sehingga celana training panjang bisa dipakai untuk yang ingin (pria maupun wanita, karena beberapa rekan pria, juga ada yang malu memakai celana pendek). Tadinya...wow seksyeh..olahraga harus pakai celana pendek setengah paha.
Orang tua teman pun masih memandang aneh pemakaian jilbab, saya ingat ketika datang ke rumah teman wanita yang jago Fisika untuk belajar bersama, ibunya ketika melongok saya di pintu gerbang berkomentar: "Mau minta sumbangan ya"...segera saya bilang bahwa saya teman sekelasnya Sari (nama samaran) yang mau belajar bersama. Saat itu, berjilbab mungkin masih identik dengan peminta-minta sumbangan.
Pelarangan jilbab tidak membuat calon pemakainya surut, makin dilarang, makin banyak yang ingin tau, main ke ROHIS, beberapa menunjukkan keinginan memakai jilbab, beberapa bersimpati. Apalagi kakak kelas yang sudah lulus, sudah kuliah, rajin datang ke SMA 6, mengisi kajian, memberi semangat pada adik-adik kelasnya.
Setelah menanti beberapa lama, saya lupa tepatnya bulan apa di tahun 1991, pemakaian jilbab dilegalkan oleh Depdikbud di SMP dan SMA Negeri, sujud syukur dihaturkan ke hadirat Allah SWT. Trimakasih ya Allah, Maha Pengabul Do'a. Adik saya, Rulli, ikut menjadi model pemakaian jilbab yang diperbolehkan, untuk sehari saat itu, dia jadi selebriti, berita di TVRI dan di koran memuat wajahnya yang berjilbab dengan seragam SMA.
Ada seorang Ibu guru (muslim) yang super duper streeeng, selalu melotot kalau saya dan Dewi (teman sebangku) pakai jilbab, segera suruh dilepas.Tapi beliau juga satu-satunya guru yang menulis surat pribadi untuk saya dan Dewi, ketika jilbab sudah diperbolehkan untuk siswa SMP dan SMA. Isi suratnya, beliau minta maaf karena dia hanya patuh pada peraturan Depdikbud kala itu, kemudian beliau mengucapkan selamat karena saya (dan teman putri lain) sudah bebas memakai jilbab di lingkungan sekolah.
Siapa sangka, 10 tahun kemudian, tahun 2000 setelah episode sebel saya di kelas, tiap mata pelajaran sang ibu guru, yang justru membuat saya melantunkan doa semoga sang ibu guru yang modis ini suatu hari pakai jilbab pula, kami dipertemukan Allah jutaan menit sesudah kejadian, puluhan ribu kilometer dari SMA 6. Di negara asing, ketika saya menemani suami yang melanjutkan sekolah. Saya bertemu, berpelukan dan bernostalgia dengan sang ibu guru, yang ternyata, datang berlibur ke tempat anaknya melanjutkan sekolah.Dan...tarrraaaa anaknya ibu guru ini pun berjilbab sekarang, sama dengan sang ibu. Allah betul-betul Maha Mendengar semua doa.
Subhanallah....
saya menangis terharu
Suami saya bengong abis, beliau bilang:"Kamu kenal dengan ibunya Aila (nama samaran)"? Saya bilang, ya , kenal ibu guru itu sejak tahun 1987, beliaulah yang dulu paling galak melarang kami berjilbab di kelas (hal itu juga diakui Bu Guru ketika berjumpa suami). Siapa sangka episode kehidupan seperti itu? Sampai sekarang, kami berteman baik dengan keluarga Ibu Guru ini.