Catatan Cinta Kami Sekeluarga

mia's posts with tag: jilbab

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag jilbab
Blog EntryJilbab dan Masa DewasaApr 16, '08 11:28 PM
for everyone

Lulus kuliah, saya menikah di usia 23 tahun, gugurlah satu pendapat bahwa berjilbab sulit mendapat jodoh. Alhamdulillah, kemudian, beberapa tahun kemudian, tiba waktu saya ikut mas Budi melanjutkan kuliah nya di Amerika, di Los Angeles. Om saya bilang begini: "Mia, kamu di LA nanti lepas jilbab dong? Kan berjilbab ngga umum di sana". Saya hanya tersenyum manis dan sebisanya mengatakan bahwa saya akan tetap berjilbab. Visa Amerika untuk saya dan Afra bisa diperoleh dengan mudah, walau saya berjilbab. Itu di tahun 2000.

Setibanya saya disana, beberapa kali saya diajak suami jalan-jalan ke Downtown (bagian kota pinggiran) yang agak menyeramkan, banyak kelompok tunawisma, pemabuk, orang berkelahi dan sebagainya. Walau tentu tidak semuanya penghuni downtown seperti ini.

Biasalah, ke downtown kami ke toko Asia, belanja makanan Asia. Lucunya, beberapa kali kami berjumpa kelompok /individu berciri Afro/Hispanic yang segera merangkul suami seraya berkata:"Assalamu'alaikum brother" sambil peluk kanan kiri. Suami bingung, koq mereka ngga pernah begini sebelum saya datang.

Saya bilang aja, sebelum saya datang, Mas kan belanja bersama teman pria, ngga ada yang berjilbab, dan pasti brother Afro/Hispanic ini ngga tau kalau Mas muslim. Iya juga ya :) suamiku pun nyengir. Itulah salah satu hikmahnya, sehingga walau pernah tersesat beberapa kali di tengah malam di Downtown, kami ngga khawatir, karena beberapa "preman" sekitar sudah hafal dengan kami.

Lalu suami lanjut lagi sekolah ke Jerman, tahun 2002 sebelum berangkat wejangan dari dosen pun banyak. Seorang kolega suami bilang :" Mia, ati2 aja disana, Jerman kan terkenal rasis, ati2 ya, loe kan berjilbab ?" Saya tersenyum kembali seperti biasa dan berkata, :"Doakan saja Bu, semoga disana kami baik-baik saja". Alhamdulillah, yang dikhawatirkan tidak pernah terjadi. Tidak sekalipun saya pernah terkena imbas rasis, kata-kata kasar, atau ejekan karena berjilbab.

Satu-satunya yang lucu hanya seorang nenek tetangga yang berulangkali setiap Musim Panas menyentuh kerudung saya :"Ist heiss, tragen deine kopftuch (panas kan,kok pakai kerudungmu)". Saya tersenyum, melambai dan berkata:" Aber, ist meine religion". Ya, ini kepercayaan saya. Si nenek tersenyum dan melambai balik.

Alhamdulillahnya di Jerman ketemu banyak orang baik, tetangga sebelah Muslim Bosnia, kami suka tukar menukar makanan. Ibu kost, Frau Inge, tetap baik dan sesekali mengomentari jika baju dan kerudung yang saya pakai menurutnya bagus, atau justru kurang bagus. Komunitas Turki dan Bosnia pun ternyata banyak di kota Mannheim tempat saya tinggal. Beberapa kali kami mahasiswa Indonesia mengadakan pertemuan tahunan di mesjid Bosnia yang ada di Mannheim.

Alhamdulillah, walaupun beberapa perempuan muda Turki, Bosnia, yang banyak saya jumpai di sekolah anak, di praktek dokter, di pasar, di toko bahan makanan, banyak yang belum berkerudung, mereka suka bertanya, Muslim dari negara manakah saya? Mereka lebih menghormati setelah tau bahwa saya menemani suami yang sedang melanjutkan kuliah dengan beasiswa, mereka ikut bahagia, dan biasanya diakhiri dengan doa, semoga kuliah suami cepat selesai.

Komunitas orang tua murid pun jika ada acara makan bersama selalu mengingatkan bahwa yang ini ada gelatine, yang itu ada schwein, dan lain-lain. Kalau acara masak pizza di sekolah pun, Afra boleh membawa sosis Turki halal, sehingga tetap lancar ikut acara masak-masak di sekolah. Salahsatu kiat juga agar saya yang berjilbab tidak dipandang menarik diri dari pergaulan, adalah selalu aktif dan hadir dalam rapat perkumpulan orang tua murid, walau awalnya selalu saya mau nangis karena ngga ngerti bahasa Jerman, mereka bicaranya cepaaat sekali.

Dengan sahabat mas Budi waktu kuliah, yang tetap bersahabat hingga saat ini pun, Alhamdulillah tidak ada masalah. Apalagi dengan komunitas teman Indonesia selama merantau, semua baik-baik saja.

Melahirkan Hanif di rumah sakit Jerman, rawat inap 2 minggu karena demam nifas, dengan tetap memakai jilbab sehari-hari, membuat para perawat lebih aware tentang makanan yang boleh saya santap. Ohne schwein, ohne alcohol bitte, tidak usah berulangkali saya ucapkan, mereka sudah faham.

Sempat berlibur ke Indonesia di tahun 2003, wah, saya betul-betul tercengang, masa ini menjadi titik balik menurut saya. Bahkan di Mall, di kantor-kantor, di bank swasta pun ada yang berjilbab, bank syariah mulai marak, pemakai jilbab bertambah dan amat sangat modis. Banyak model baju dan kerudung yang memenuhi syarat tetapi tetap ceria dan modis. Jauh betul dengan awal saya berjilbab, dimana warna-warna baju suram dan jarang sekali toko busana /perlengkapan Muslim

Bersyukurlah jika ada yang sudah berkeinginan memakai jilbab sekarang, banyaklah berdoa semoga Allah SWT memberi kemantapan hati. Sebab hanya Allah SWT Sang maha Penguasa Hati manusia, hanya Allah yang menggenggam hati setiap manusia

Yaa muqollibal qulub..tsabit qulubanaa..'ala dinik

Begitulah, ceritanya. Semua kekhawatiran tidak terbukti, apalagi perlakuan rasis. Selama niat kita baik, berteman dengan hati, semua akan berakhir baik. Terima kasih ya Allah, semoga saya tetap istiqomah menjalani hari-hari selaku Muslimah. Amiiin. 


Blog EntrySaya dan JilbabApr 16, '08 11:12 PM
for everyone

Blog ini terinspirasi dari milis yang ramai berdiskusi soal ini. Tulisan ini hanya pengalaman pribadi semata, maaf jika ada tulisan yang kurang berkenan.

4 tahun SD swasta,2 tahun SD Kristen dan 2,5 thn di SMP Katolik Frateran, membuat saya tidak tau benda apa jilbab itu. Di SD Kristen dulu, sebelum mulai belajar, selain berdoa, kami harus menyanyi lagu rohani yang berbeda tiap harinya, belum lagi, saya adalah salah satu dirigen paduan suara lagu rohani di kelas. 

Di SMP yang berbatasan langsung dengan wisma Frater (calon Pastor) mayoritas lingkungan kegiatan saya di OSIS SMP dihabiskan disana, jadi tidak aneh saya selaku ketua OSIS sambil rapat OSIS, di ruang sebelah, saya melihat dan mendengar Frater sedang training kerohanian dengan Pastor. Pelajaran Budi Pekerti yang saya dapat untuk menggantikan Pelajaran Agama Katholik di kelas pun banyak menyitir ayat dari Kitab Suci.

Di SMA pun, ekskul saya PMR dan beladiri, bukan Rohani Islam/ Rohis, walau ada beberapa teman Rohis yang dekat dengan saya. Jadi ketika suatu hari ada Pengajian Pesantren Kilat 3 hari untuk mengisi libur semester akhir tahun 1988, dan karena rumah orangtua saya dikenal sebagai markas anak-anak (tapi kebanyakan anak beladiri, anak PMR dan lainnya yang sering bermarkas disini) maka saya diajak ikut serta.

Awalnya...waaah...aneh sekali melihat kakak-kakak alumni yang sudah kuliah di beberapa PTN,mereka memakai sehelai kain menutupi kepala sampai dada dengan beberapa peniti. Bajunya pun jauh dari modis, berupa gamis (gaun terusan berlengan panjang), yang umumnya berwarna sendu, kelabu, hijau lumut, coklat. Untuk pertamakalinya saya melihat pemakai jilbab dan gamis. Jam demi jam, materi yang diberikan sangat menyenangkan untuk hati, Hakekat Penciptaan Manusia, Cinta kepada Allah, Cinta kepada Rosul, Bersaudaranya sesama Manusia, Belajar dari Alam, Hakikat Waktu, sampai materi teakhir, Muhasabah (introspeksi diri).

Materi tentang introspeksi ini yang membuat saya berpikir beberapa kali, memakai jilbab untuk Muslimah tertera dalam surat An Nuur

Dan hendaklah (para wanita) mereka menutupkan kain kudung kedadanya (QS. An-Nuur: 31)

Kakak-kakak itu tidak pernah memaksa, hanya mengajak. Saya sendiri beberapa bulan setelah Pesantren Kilat itu, belum juga berjilbab, tetep tomboy, pakai rok hanya rok seragam, tetap kaos celana panjang, tetap jadi anak yang rame, banyak teman, rajin kemping, rajin PMR, tetap ikut beladiri, aktif ekskul. Saya yang ngga hobi berenang, ngga bisa lancar renang malahan. Jadi saya tidak terlalu berat berjilbab dibandingkan teman yang masih berat berjilbab karena hobi berenang.

Akhirnya, di pertengahan tahun 1989, ketika saya sembuh sakit beberapa teman SMA yang lebih dulu berjilbab, rajin membesuk,saya dikasih kado 2 jilbab putih tapi memakainya pun saya belum bisa, penitinya mesti ditusuk kemana,  jilbabnya mesti dilipat bagaimana? Baju panjang pun saya belum punya, koleksi baju mayoritas hanyalah kaos, jeans, dan satu dua rok selutut. Berdua dengan adik, kami pun mulai beli satu dua kemeja kotak kotak tangan panjang, persis kemeja teman-teman pencinta alam.

Habis dikasih kado itu lalu saya pakai jilbab? Belum, hehehe, ulang tahun ke 17 di bulan Juni saya rayakan dulu, sekalian syukuran sembuh sakit. Bajunya? Ya rok blus biasa, rok selutut, blus tangan pendek warna pink. Keinginan memakai jilbab sempat menguap beberapa lama saat itu.

Kemudian keinginan berjilbab muncul kembali. Bapak Ibu ketika diberi tahu melarang keras, kuatir anaknya terbawa aliran Islam ekstrim. Seorang Bude melarang, katanya, masih remaja koq pake kerudung kaya orang tua, nanti ngga laku, ngga ada yang mau sama saya. Seorang eyang juga panik berat, karena memang di keluarga besar, baru saya dan adik yang berkeinginan seperti ini. Keinginan ini baru sebatas dalam hati, masih maju-mundur-maju mundur selama 1,5 tahun ke depan, dari akhir 1988 sampai awal tahun 1990.

Keluarga saya adalah keluarga Islam kebanyakan. Abangan kalau istilah Jawa, Islam dipahami sebatas ritual Shalat, Puasa, Zakat, pergi Haji. Sulit sekali jika menyitir ayat, pendapat tersering adalah istri Ustad ini atau Kyai anu juga ngga berjilbab. Duh Gusti Allah, bagaimana ini? Saya sedikit banyak terpengaruh juga dengan semua pendapat itu.

Akhirnya, setelah menguatkan hati, pendekatan siang malam ke orang tua, Ibu akhirnya luluh, dengan syarat, kalau udah pake ngga boleh lepas jilbab. Ibu sendiri belum berjilbab saat itu. Bapak memperbolehkan dengan syarat berat untuk saya. Boleh pakai jilbab, tetapi harus lulus UMPTN. Hadoooh, gimana niy? Ambil ngga tantangan ini? Saya prestasinya sangat biasa di kelas, tidak pernah masuk 5 besar, sesekali kalau hoki, masuk 10 besar di kelas, selebihnya? Ranking belasan lah, hehehe.

Bulan Maret 1990, keinginan itu sudah membuncah, pakai sekarang, dengan sebuah niat baik, tekad bulat, maka saya dan adik berdua memakai jilbab, masih aneh, karena saya memakainya dengan blus kotak kotak panjang dipadu kulot sebetis ditambah kaos kaki  selutut.Iya, kaos kaki putih yang biasa dipakai teman-teman Paskibra.  Dipakai pertama kali ke kursus bahasa di LIA Slipi. Satu dua teman memandang aneh dengan pakaian saya.

Siangnya (saya masuk sekolah siang, jam 1) saya dan adik juga pakai jilbab ke sekolah. Saat itu tidak boleh pakai rok panjang, jadi rok masih selutut, ditambal dengan kaos kaki, blus tangan panjang, ditambah jilbab putih. Beberapa teman memberi selamat, beberapa teman, pria dan wanita protes, komentarnya :"Yaaa, Mi, elo bakalan jaim deh, elo ngga asik lagi deh, ngga bisa maen bareng dan ngobrol rame lagi". Menghadapi serbuan komentar begitu, saya gelagapan. Belum lagi, 2 jam kemudian saya dipanggil ke kantor guru. Disidang.

Waaaaks, mati deh, pikir saya. Bener juga, kiamat kecil datang, beberapa teman berjilbab dan juga adik saya, dipanggil. Diceramahi dari Utara Selatan, dari Barat ke Timur. Bahkan ketika kami mencoba menjawab bahwa itu adalah hak asasi manusia, selalu terbentur kenyataan bahwa pemakaian jilbab belum legal di sekolah. Ya, para guru itu benar sekali. Akhirnya, kompromi didapat, kami tidak dikeluarkan dari sekolah, jika mau melepas jilbab jikalau ada guru yang keberatan jika ada murid berjilbab di kelas.

Masa ini merupakan masa penuh perjuangan, sedih bercampur malu, selesai masalah dengan orangtua, muncul masalah dengan guru. Di tahun 1990 saat itu, jilbab belum legal di tingkat SMA dan SMP. Jadilah kami harus kucing-kucingan, karena ada beberapa guru yang amat sangat keberatan dengan pemakaian jilbab. Begitulah, masa ini cukup berat buat saya dan kawan-kawan. Kadang ingin menyerah, karena malu juga, masa' satu jam pake jilbab, untuk kemudian 2 jam pelajaran jilbab ini harus dibuka dahulu?

Alhamdulillah, beberapa teman pria dan wanita yang simpati tidak hanya dari ROHIS, tapi juga ekskul lain, teman-teman PMR, beladiri, Pencinta Alam juga, ikut melobi para guru, dengan berbagai pendekatan. Dari 60% guru yang melarang murid berjilbab, tinggal 20% yang keberatan mengajar kalau kami pakai jilbab di kelas. Untuk olahraga pun, kami bisa sukses, melobi guru olahraga, sehingga celana training panjang bisa dipakai untuk yang ingin (pria maupun wanita, karena beberapa rekan pria, juga ada yang malu memakai celana pendek). Tadinya...wow seksyeh..olahraga harus pakai celana pendek setengah paha.

Orang tua teman pun masih memandang aneh pemakaian jilbab, saya ingat ketika datang ke rumah teman wanita yang jago Fisika untuk belajar bersama, ibunya ketika melongok saya di pintu gerbang berkomentar: "Mau minta sumbangan ya"...segera saya bilang bahwa saya teman sekelasnya Sari (nama samaran) yang mau belajar bersama. Saat itu, berjilbab mungkin masih identik dengan peminta-minta sumbangan.

Pelarangan jilbab tidak membuat calon pemakainya surut, makin dilarang, makin banyak yang ingin tau, main ke ROHIS, beberapa menunjukkan keinginan memakai jilbab, beberapa bersimpati. Apalagi kakak kelas yang sudah lulus, sudah kuliah, rajin datang ke SMA 6, mengisi kajian, memberi semangat pada adik-adik kelasnya.

Setelah menanti beberapa lama, saya lupa tepatnya bulan apa di tahun 1991, pemakaian jilbab dilegalkan oleh Depdikbud di SMP dan SMA Negeri, sujud syukur dihaturkan ke hadirat Allah SWT. Trimakasih ya Allah, Maha Pengabul Do'a. Adik saya, Rulli, ikut menjadi model pemakaian jilbab yang diperbolehkan, untuk sehari saat itu, dia jadi selebriti, berita di TVRI dan di koran memuat wajahnya yang berjilbab dengan seragam SMA.

Ada seorang Ibu guru (muslim) yang super duper streeeng, selalu melotot kalau saya dan Dewi (teman sebangku) pakai jilbab, segera suruh dilepas.Tapi beliau juga satu-satunya guru yang menulis surat pribadi untuk saya dan Dewi, ketika jilbab sudah diperbolehkan untuk siswa SMP dan SMA. Isi suratnya, beliau minta maaf karena dia hanya patuh pada peraturan Depdikbud kala itu, kemudian beliau mengucapkan selamat karena saya (dan teman putri lain) sudah bebas memakai jilbab di lingkungan sekolah.

Siapa sangka, 10 tahun kemudian, tahun 2000 setelah episode sebel saya di kelas, tiap mata pelajaran sang ibu guru, yang justru membuat saya melantunkan doa semoga sang ibu guru yang modis ini suatu hari pakai jilbab pula, kami dipertemukan Allah jutaan menit sesudah kejadian, puluhan ribu kilometer dari SMA 6. Di negara asing, ketika saya menemani suami yang melanjutkan sekolah. Saya bertemu, berpelukan dan bernostalgia dengan sang ibu guru, yang ternyata, datang berlibur ke tempat anaknya melanjutkan sekolah.Dan...tarrraaaa anaknya ibu guru ini pun berjilbab sekarang, sama dengan sang ibu. Allah betul-betul Maha Mendengar semua doa.

Subhanallah.... saya menangis terharu

Suami saya bengong abis, beliau bilang:"Kamu kenal dengan ibunya Aila (nama samaran)"? Saya bilang, ya , kenal ibu guru itu sejak tahun 1987, beliaulah yang dulu paling galak melarang kami berjilbab di kelas (hal itu juga diakui Bu Guru ketika berjumpa suami). Siapa sangka episode kehidupan seperti itu? Sampai sekarang, kami berteman baik dengan keluarga Ibu Guru ini.

 

 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.