Hari-hari di Jawa Tengah lebih cerah dari di Depok, sampai tercetus ide dari ipar, ke Gua Jatijajar dan pantai Ayah, Kalau kemarin ke Owabong anak-anak saja, kali ini komplit dengan Mbah Uti, dan kakak ipar beserta istrinya. Mbah Kakung memilih beristirahat di rumah. Total rombongan hari ini 6 anak dan 5 dewasa, hehehe, rame juga semua masuk di LGX kami.
Mampir sebentar di sebuah desa kecil, ada latihan kuda lumping (ebeg), wah anak2 melesat meliahat pemain kuda lumping dan musik magisnya. Lumayan ramai, tempat latihan mereka, pemain semua pria berkostum lengkap warna cerah dengan kacamata hitam. Setelah mengambil foto, kami melanjutkan perjalanan.
Goa Jatijajar, pertamakali saya kunjungi. Lumayan banyak anak tangga mendaki dan menurun untuk mencapai goa itu. Ditingkahi gerimis tipis, wah, tadinya saya dan Rifqi hampir menyerah. Lumayan lelah menggendong Rifqi walau sebentar (sebetulnya, yg banyak gendong mas Budi, hihiy). Setelah istirahat sebentar, sampai juga kami semua ke dalam goa ini. Goanya cukup terawat, ada beberapa lighting, merah, kuning, menerangi stalaktit dan stalakmit. Goa Jatijajar ini juga tidak pengap dan tidak menyeramkan, friendly cave buat anak dan manula. Ada tangga berpegangan sepanjang gua, jadi aman walau jalan agak licin.
Jadi teringat 25 thn lalu, masa SD di SD Triguna, Jaksel, ada guru saya, pak Suhud, yang rajin cerita tentang legenda Batur Raden (ajudannya seorang Raden Kamandaka). Waktu mendongeng pak Suhud tiap Sabtu siang selalu saya tunggu...apalagi, beliau pandai memotong ending cerita bersambung, bikin penasaran. Di dalam Goa Jatijajar ada beberapa patung fragmen kisah Raden Kamandaka dan Dewi Ciptoroso. Saya sendiri sudah lupa kisahnya, hanya ingat nama tokoh utamanya.
Fasilitas sholat juga bagus, mesjidnya bersih dan luas, kami sholat Dzuhur Ashar dulu di mesjid ini, sementara Hanif, mencium aroma sate bebek, langsung minta dibelikan. Anak-anak makan sate di bangku belakang mobil, seru rebutan 10 sate untuk 4 anak. Oya, banyak penjual pecel dengan bunga kecombrang, ada juga saya foto.
Langsung dari goa, kami ke Pantai Logending-Ayah. Sebetulnya ini persambungan muara sungai (cmiiw), jadi bukan pantai seperti Ancol. Kami makan seafood di bu Nanang. Warung Seafoodnya ramai, rasanya enak, udang goreng tepungnya sedep dan besar2, bawal bakarnya fresh dan manis dagingnya. Resto ini cukup bersih
Harga masing-masing dalam keadaan matang : Bawal 1 kg rp 70.000, Udang 1 kg 65.000, Kepiting 1 kg 50.000, Lobster 1 kg 300.000, Tumis kangkung 7.500 per porsi besar (bisa 4 org), nasi dan sambel kecap plus terasi untuk 10 orang dihitung 25.000, nasinya se ceting besar, pulen dan wangi pandan fresh. Minuman kopi , teh, es jeruk semua berharga sama, 2.000 per gelas.
Udang 1/4 kg berisi 12 udang goreng tepung yg ukurannya besar2 dan udang saos tiram juga berisi sekitar 16 ekor udang agak kecil (saya curiga ini sebetulnya 1/2 kg ya? tapi di bill cuma dihitung 1/4 kg per porsinya). Ikan bawal bakar 2 dan goreng2 kami pesan 70.000 sudah dapat 4 ekor ikan, lumayan besar, saya juga curiga, per ekor seharusnya 400gr minimal. Lobster ngga kami pesan, sayang aja soalnya uang 300 ribu buat makan lobster...hehehe... Kepiting juga ngga pesan, karena ada yg alergi kepiting.
Warung Seafood Bu Nanang HP 081327583000
Disini lagi musim salak pondoh, per kilo 4000, juga banyak ikan asin, sayang sekali, kelihatannya ikan asinnya kurang kering, jadi kami batal beli. Pisang sale, lanting, aneka kriuk2 an adalah sebagian oleh-oleh disini.
Selesai makan, kami naik kapal mengelilingi muara,kali ini hanya kami sekeluarga yang ikut, sitambah Wulan dan Kukuh, sepupu Afra. Mbah Uti dan keluarga kakak ipar tidak ikut. Sekitar 20 menit naik kapal, mbayar 25 ribu rupiah, nawar dari 35 ribu untuk 7 orang. Di kapal sendal Hanif hanyut dilempar Rifqi, muka Hanif sudah mbik2 pucat, mau nangis, untung nakoda kapal memutar arah dan mas Budi berhasil mengambil sendal.
Tertawalah Hanif... Sendal jepit merah bergambar Ferrari itu luar biasa, hampir hanyut di Taman Safari (diambil oleh kakak rombongan SD), sudah terlindas mobil tapi ngga rusak, eh sekarang mau hanyut lagi. Rifqi dan bapak naik kuda di pantai ini, sementara kakak2 main pasir,pasirnya jenis pasir hitam, anak2 main pasir agak jauh dari pantai, di tepi pantainya banyak sampah2 kayu, jadi agak kotor.
Menjelang maghrib,kami pulang, mampir dulu beli martabak dan soto di alun-alun untuk Mbah Kakung. Alhamdulillah, senangnya jalan bersama keluarga besar.