Catatan Cinta Kami Sekeluarga

mia's posts with tag: belajar

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag belajar
Blog EntryDari Talkshow PenulisanMar 3, '08 12:42 PM
for everyone

Ini hasil presentasi dari Qaris Tadjudin dan Andrea Hirata, dalam Talkshow Penulisan 21 Februari di FISIP UI.  Saya bukan penulis yang baik, baru mau belajar menulis, jadi, maaf kalau ada ide Qaris dan Andrea yang salah tafsir, atau keliru tulis disini

 

MENULIS ITU GAMPANG, REPORTASE ITU SULIT

Qaris Tadjudin

 

Mengapa kita harus menulis? Bukankah tidak semua kita akan menjadi sastrawan atau wartawan? Pertanyaan yang sama dapat ditanyakan saat kita belajar geometri, tidak semua kita akan menjadi insinyur, bukan? 

 

Alasan menulis adalah

  1.  Melatih kita untuk berfikir logis, tulisan yang baik adalah tulisan dengan logika yang runut.Tulisan yang jelek hasil dari kepala berlogika kacau "Tidak ada tulisan buruk, yang ada hanyalah logika yang kacau" (A.Loebis)
  2. Melatih kita untuk berkomunikasi, tulisan yang baik adalah yang paling mudah dimengerti oleh pembaca yang awam sekalipun. Tulisan yang rumit hanya bisa dimengerti oleh orang tertentu adalah tulisan yang gagal.

Masa Depan Jurnalisme Tulis

Serbuan televisi di tahun 1960-an sempat membuat goyang jurnalisme cetak. Semua hal yang kita baca di koran pagi hari ini, sudah ada di televisi kemarin. Bahkan, televisi bisa menyiarkan secara langsung: teks, suara gambar (contoh: waktu Soeharto wafat jam 13.10, jam 14.00 sudah ada di internet, radio, televisi. Di koran? baru ada esok harinya). Alhasil koran kehilangan fungsinya sebagai penyampai berita pertama. Apalagi majalah. 

 

Jurnalisme Baru

Media cetak kemudian mencari celah baru dalam penulisan. Bagaimana menulis sesuatu yang tidak mungkin dilakukan oleh televisi. Muncullah New Journalism / Literary Journalism.

Jurnalisme Sastrawi itu diterjemahkan dengan: Menulis dengan gaya membuat cerpen/novel.

Tokoh Jurnalisme Baru antara lain Truman Capote (menulis in Cold Blood) dan Gay Talese (menulis Frank Sinatra Has a Cold).

 

Media Jurnalisme Baru

Antara lain majalah Esquire, The Rolling Stone dan The NewYorker. Untuk Indonesia: Tempo (masa lalu, sebelum dibreidel) Setelah dibreidel, Tempo belum bisa mengembalikan Jurnalisme Sastrawinya hingga tingkat di masa itu

 

Bagan sederhana 

 

Berita

Feature

Novel

Kelengkapan

Harus 5W+1H (What, Who,Why,Where, When, How)

5W 1H tidak ketat

Bebas, tidak harus 5W 1H

Kejadian

Fakta

Fakta

Fiksi

Kekinian

Mutlak

Tidak Mutlak

Tidak Mutlak

Struktur

Piramida Terbalik

Dalam 1dan 2 paragraf sudah keseluruhan berita. Makin akhir paragraf, berita menjadi tidak penting lagi

Bebas

Bebas

Vocab Penulisan

Lugas dan ringkas

Kaya vocab, imaginative, fakta 100%

Kaya vocab, imaginative, fiktif

(ini semua dari makalah Qaris, bukan dari Mia loooh)

 

Catatan Mia:

Terlepas dari kontroversi atau apa, menurut Qaris, penulisan feature terbaik adalah di majalah Playboy. Iya, majalah Playboy yang itu. Hm...saya juga tidak tahu kenapa demikian? Ada yang bisa diskusi mengenai ini? Mestinya tanya ybs ya.

 

 

WRITING STYLE by ANDREA HIRATA

 

Case Study: LASKAR PELANGI

 

Dari awal, AH sudah kecewa, karena dia berpikir ini ajang berdiskusi komunitas penulis dari FISIP UI, ternyata, menurut AH, Talkshow ini tak ubahnya jumpa fans di Gramedia Matraman. AH tidak seperti Qaris yang membuat presentasi. Yang dibawa AH hanya film Unfaithful yang diputar sebagian dan Brokeback Mountain, yang tidak diputar  (AH sangat suka ke 2 film ini) slide wajah wanita tua dan slide masa kecilnya di Belitong.

 

Ada 2 hal penting dalam menulis menurut Andrea

 

1. EXTENCITY

 

Tema tulisan bisa sangat melebar kemana-mana. Yang terpenting menurut AH, ketika kita sedang duduk menulis Sastra, lupakan semua aturan. Contohnya buku The Life of Phi idenya sederhana, ini buku yang sangat absurd, melebar kemana-mana walau semua tokoh cuma berada di dalam sampan kecil. AH sampai trance ketika menulis. Apalagi, menurutnya, insomnia yang dia alami membuatnya bisa menulis lebih lama

 

2. INTENCITY

 

Dalam hal ini Andrea memperlihatkan slide bergambar wanita tua. Dari 1 wajah itu bisa jadi 10 novel, antara lain: Siapa dia? Berapa usianya sekarang? Bahagiakah dia? Bagaimana kisah cintanya? Ada anaknya atau tidak? Mengapa karakter wajahnya seperti itu? Dari tiap kerutan wajah wanita tua ini bisa dibuat satu novel.

 

Lalu, sebuah tulisan yang baik, setiap paragrafnya mengandung Possibility, mengandung berbagai kemungkinan. Moving paragraf, bisa bertukar paragraf .

Ketika ditanyakan bagaimana dengan mood? AH berkata, orang yang moody itu punya sebuah kemewahan, karena dia sendiri tidak pernah tergantung pada mood, dia harus selalu menulis, terutama ketika sedang insomnia itu.

 

Kesimpulan AH satu lagi : Setiap Sastra yang baik membuat pembacanya merasa dia adalah bagian dari buku itu.

 

Pendapat pribadi: Andrea banyak memberi energi positif, energi untuk selalu belajar, semangat, dan bersahabat. Menurut saya, ini lebih ke Pembelajaran tentang hidup dari AH, bukan sekedar Talkshow Penulisan

 

Catatan Mia 

Kalau kurang memuaskan, maaf, saya bukan penutur yang baik. Sesi Andrea Hirata tanpa presentasi, dia bergerak kian kemari, dan lebih banyak sesi tanya jawab untuk AH (kapan Maryamah Karpov terbit, tokoh2 di Laskar Pelangi dll) Sesi Oktian, maaf saya tidak mencatat, karena saya masih berdiri, tidak kebagian kursi. Dan sesi Oktian lebih ke Penulisan Skripsi/ Thesis yang tidak terlalu saya perlukan.


ddd
dThumbnaild
ddd
Baru sempet upload, 21 Feb di FISIP UI, ada takshow penulisan, ragu juga mau datang, kalau cuma jumpa fans AH (Andrea Hirata) nanti bagaimana? Tapi berangkat juga deh, pingin juga ikut talkshow penulisan, nambah ilmu. Sampai sana, sudah penuh, seorang mahasiswa panitia, anggota BEM berkata : "Ibu sudah registrasi?" Saya bilang: "Belum". Dia meminta maaf karena di dalam sudah penuh. Duh,sudah jauh-jauh koq mesti pulang ya?

Tapi,seorang adik mahasiswi yang baik berkata: "Kalau ibu mau berdiri, boleh koq masuk". Ya saya masuk, berdiri di samping kiri depan, untuk 15 menit, setelah tiba-tiba mendadak bangku depan kosong karena banyak yang memilih lesehan. Rezeki memang nggak ke mana, Alhamdulillah.

Pembicara pertama Oktian, lebih banyak ke penulisan ilmiah, karya tulis, skripsi, thesis. Sayang penyajiannya agak bertele-tele. Saya juga untuk saat ini belum butuh penulisan ilmiah ini. Jadi, lebih banyak melihat presentasi ketimbang mencatat.

Alhamdulillah ada nara sumber lain, mas Qaris dari Tempo, memberi kiat penulisan feature, dan ternyata, menulis itu tidak sulit asal ada kemauan.Khusus untuk menulis feature, banyak perbedaan dengan menulis fiksi, karena feature itu harus nyata, walau tidak usah on-time.

--Ohya, pake bolpen itu susah ya? Kelamaan pakai keyboard, tulisan saya jadi jelek lagi. Duh, padahal saya mencatat dengan gaya kuliah, karena ada presentasi segala, dan presentasinya menarik untuk dicatat--.

Andrea Hirata? Baru sekali saya melihatnya langsung, bukan di televisi.Ada film Unfaithful yang diputar untuk menggambarkan kekuatan karakter tokoh di film, seorang wanita mapan menikah dengan pria mapan, berputra satu,yang tertarik dengan seorang pemuda lajang yang memiliki ribuan buku. Menurut AH, ini film yang memiliki karakter tokoh yang kuat. Sayang sekali, saya bukan seorang penikmat film, beberapa film yang saya lihat, jarang mengendap di benak saya.

Ada berita buruk bahwa ternyata buku Maryamah Karpov baru akan terbit setelah film Laskar Pelangi diputar di bioskop. Bayangkan, film ini saja baru mulai shooting jadi masih lama mungkin, let's see 1semester lagi kah? Ya sudah, biarkan saja, mungkin ini juga strategi pemasaran agar dalam beberapa waktu mendatang karya AH masih dinikmati.

Andrea menjalin gentlemen agreement dengan Riri Riza untuk soal Maryamah Karpov ini. Padahal saya prediksi di Islamic Book Fair yang dimulai hari ini sampai 9 Maret di Istora Senayan, sudah bisa kita baca. Pembaca kuciwa dong yaaa.

Ada pembaca kecil, putri 7 tahun yang sudah menamatkan ke 3 buku AH. Komentar saya hanya satu, di Edensor, ada beberapa penulisan untuk dewasa. Afra sendiri baru saya izinkan baca kalau sudah SMP, masih berat untuk anak 7 tahun. Tapi sudahlah, tiap orang tua bisa berbeda.

Fans lainnya, anak SMA yang ditemani ayahnya dan adiknya yang masih SD, tanpa saya bertanya, sang Bapak mejelaskan: "Bu, anak saya mengejar terus kemana AH berbicara, ke Bandung, Makassar, Jakarta". Wah...Bapak yang mengakomodasi hobi dan kebutuhan si anak bertemu AH, tapi dikejar sampai Makassar? Bukankah anak itu masih bersekolah, lalu dia ijin demi bertemu idolanya? Menjadi selebriti memang tidak selalu menyenangkan ya, banyak juga hal baru yang mengagetkan.

Ternyata tidak seperti yang saya duga, saya menikmati juga talkshow ini, walau sejatinya saya ngga mau terlalu terlibat dengan "pribadi" penulis, karena kuatir harapan saya, penulis itu perfect. Penulis itu adalah tokoh yang dia tulis, tapi kan tidak harus begitu. But they only human, jadi jangan terlalu rewel ya Mia. Sesi tanda tangan dan foto bareng saya lewatkan, saya bukan mahasiswi lagi, malu saja minta tanda tangan dan foto bersama begitu :D Saya lebih suka membaca dan terinspirasi dari buku-buku AH saja.

Pulang, bertemu anak BEM yang tadi menolak saya di pintu masuk. Katanya: Alhamdulillah, bisa masuk juga ya Bu. Iya...haha, positive thinking, bukan hanya bisa masuk, tapi bisa duduk paling depan, karena adik2 mahasiswa akhirnya banyak yang memilih lesehan.

Alhamdulillah banyak ilmu yang didapat, nanti saya tulis lagi,sekarang mau pergi dulu ya. Senangnya sehari di FISIP, pulang beli gorengan, naik ojek 5 ribu menghemat waktu 30 menit, sampai Gunadarma, nyebrang, beli lauk dulu di RM Padang, lauk dan gorengan ini oleh-oleh untuk anak dan suami yang ditinggal ibunya 4 jam demi belajar menulis lagi. Setelah itu menyambung angkot di belantara Margonda.

Fotonya kurang jelas ya, ruangan AJB di FISIP itu gelap sekali, karena ada presentasi,sementara blitz saya mendadak ngadat, duuuh

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.