Catatan Cinta Kami Sekeluarga

Blog EntryPekerjaan Lelaki Vs Pekerjaan PerempuanFeb 27, '08 8:02 PM
for everyone

Yang saya maksud pekerjaan sehari-hari yang umumnya dilakukan seputar rumah. Bukan pekerjaan kantor. Saya orang yang acung jari duluan untuk protes ketika jenis pekerjaan harus dikotak-kotakkan. Bagi saya dan suami, kesepakatan ini kami tanamkan sejak dahulu, sejak anak-anak masih bayi, bahwa untuk mendidik anak-anak kami nantinya tidak ada cerita pemisahan pekerjaan untuk anak lelaki dan untuk anak perempuan.

Anak lelaki diharapkan harus bisa menyapu, memasak, mencuci piring, mencuci baju manual, menyetrika, memelihara tanaman sebaik anak perempuan yang harus belajar sehingga bisa mengendarai motor, menyupir mobil, mengosrek kamar mandi, mengganti lampu yang mati, serta bertukang.

Untuk belajar membantu, anak-anak dibiasakan merapikan mainan sendiri, Afra sedari kecil, usia 5 tahun juga sudah biasa membuat sarapan untuk keluarga, sarapan sederhana  yang terdiri dari susu UHT dicampur coklat bubuk dan roti isi keju lembaran atau selai coklat. Hanif dan Rifqi juga selalu kuajak membereskan mainan , membereskan belanjaanku sepulang belanja bulanan, masing-masing di tempat simpannya, serta merapikan tempat tidur mereka, menepuk-nepuk bantal, melipat selimut. Sekarang, Hanif sedang suka membuat telur ceplok sendiri, 2-3 kali dalam seminggu, makan malamnya ditambah lauk ceplok buatannya sendiri

Hasilnya lumayan, sampai sekarang kalau PRT pulang Lebaran, saya tidak kalang kabut kebakaran jenggot. Capek iyalah, pasti. Membereskan rumah tidak habis-habis, tapi setidaknya anak-anak dan suami membantu, jadi saya ngga merasa seperti PRT inval, PRT pengganti, hihihi.

Syukurlah saya dan suami satu kata, juga satu perbuatan, kalau tidak, anak-anak pasti bingung. Dan kenyataan bahwa suami juga konsekwen dengan kesepakatan ini, sangat melegakan ketika kami merantau. Alhamdulillah, tidak ada cerita suami enak-enak main game di depan PC sementara rumah berantakan, cucian piring menumpuk, anak-anak menangis karena belum makan, dan cucian segunung belum disetrika.

Hal demikian sering sekali saya lihat dalam kehidupan rekan-rekan yang sedang merantau. Kalau sang istri sehat, tidak masalah, cuma suka miris saja, melihat si istri sakit-sakitan, bahkan sedang mengandung pula, ditambah Balita yang juga rewel, suami masih menuntut bahwa makan siang dan makan malam harus selalu lauk segar ala Indonesia yang penuh bumbu. Kebayang kan kalau si istri bukan jago masak seperti saya? Menuntut rumah harus selalu rapih dari Utara ke Selatan. Untuk mendiskusikan secara personal, rasanya koq terlalu ikut campur urusan orang lain. Walau beberapa istri mulai sering curhat kepada saya via telfon untuk masalah berbagi pekerjaan ini. 

Akhirnya kami sepakat mengundang rekan mahasiswa beserta keluarganya untuk kumpul di rumah saya. Karena saat itu saya baru melahirkan (sekalian selamatan dan pengajian--walau yg hadir tidak harus semua yang Muslim--) maka urusan masak memasak diambil alih suami. Mulai dari bikin gulai daging, ketupat,balado telur, gulai nangka, dikerjakan beliau. Saya hanya kebagian membuat martabak dan menggoreng tahu serta kerupuk.

Karena teman-teman beberapa takut terlambat, mereka datang lebih cepat 30 menit, dimana kami masih bekerja berdua, mengepel lantai, menyikat kamar mandi, membereskan masakan. Teman-teman menunggu dulu di teras belakang  kami yang cukup luas, sambil menonton kami bekerja berdua...haha, koq seperti sirkus saja ditonton.

Teman-teman yang datang koq suka masakannya dan memuji enaknya makanan yang ada, saya bilang: "Wah itu pak Budi lho yang masak, bukan saya". Kwew kwew, beberapa melihat tidak percaya. "Pak masih sempat masak?"  Kata suami, "Sebenarnya, kalau ada kemauan dan ada resep masakan, mudah koq memasak, cukup diikuti step by step". Dan dimulai obrolan tentang bagaimana memasak lauk yang mudah dan cepat untuk para Bapak.

Setelah makan selesai, lebih  dari 25 set piring sendok garpu gelas terkumpul. Again, semua Bapak-bapak asyik ngobrol, suami saya memulai dengan menyingsingkan lengan, membereskan sampah, menyapu remah-remah dan mencuci piring gelas dan properti lainnya. Merasa tidak enak hati atau bagaimana, satu persatu para pria mulai membantu. Ibu-ibu kemana? Masih sibuk tentunya, menyuapi anak, menyusui bayi, menidurkan anak yang rewel.

Alhamdulillah, memberi contoh seperti itu, beberapa hari kemudian saya mendapat telfon. "Mba, si ayah sekarang sudah mau menyapu dan mengepel lantai loh" atau ada juga yang bilang "Mia, makasih ya,dikasih contoh pak Budi, sekarang suamiku udah mau bantu bikin lauk sendiri" dan juga para bujangan bilang " Mas Budi, masak itu ngga susah ya, jadi uang ngga habis untuk makan di restoran"

Ya...walaupun tidak 100% sukses, setidaknya sudah ada usaha bekerjasama membereskan pekerjaan rumah sehari-hari. Ada usaha dimana kita mau belajar dan belajar terus.

Updated terlupa

Kritik untuk para istri atau suami, kalau mau dibantu, jangan mengharap terlalu perfect, kasian pasangan kita. Kalau kita 100% perfectionist, ya kerjakan saja sendiri, jangan minta bantuan. Mencela hasil kerja pasangan, sangat tabu disini, lebih baik memberi contoh dengan bahasa halus, dan juga penilaiannya jangan seperti guru Ujian Praktek,kalau tidak pas langsung dapet E, failed. 

Kalau pasangan belum jago masak ya jangan diberi tugas memasak, bantulah mencuci peralatan masaknya. Kalau pasangan belum jago menyetir dan ngga sabar liat pasangan menyetir yang ngga canggih (seperti saya, haha, saya menyetir kalau lagi santai, kalau buru-buru, suami akan segera ambil alih) ya ikhlaskan, biar nanti pasangan memijat kaki kita yang pegal nahan rem serta kopling.


61 CommentsChronological   Reverse   Threaded
suryatmaning wrote on Feb 27
Setuju, setuju, setuju....
Hidup merantau memang 'memberi pelajaran' bagi kawan-kawan laki-laki yg blum terbiasa mengerjakan pekerjaan tertentu.
Dan sebaliknya bagi kawan-kawan perempuan untuk melakukan hal-hal baru yang tadinya tidak terpikir akan dikerjakan sendiri waktu di Indonesia.
kuenogosari wrote on Feb 27, edited on Feb 27
Saya orang yang acung jari duluan untuk protes ketika jenis pekerjaan harus dikotak-kotakkan.
Setuju Mia, yang benar pekerjaan domestik adalah perkerjaan manusia (laki-laki dan perempuan) bukan cuma dibebankan pada perempuan saja, malah menurutku, seharusnya pekerjaan mencuci kalau dikerjakan secara manual harusnya di kerjakan laki-laki karena kan katanya laki-laki lebih kuat secara fisik. Dirumah memasak adalah bagianku, membereskan dan membersihkan sehabis makan adalah tugas suamiku, juga perkerjaan lainnya kami kerjakan berdua.
oetjipop wrote on Feb 27
benar mbak Mia....

knapa sih pekerjaan kudu dikotak-kotakan..

yg penting niat n gimana kitanya mengajari klo pekerjaan iitu dilakukan dg tulus ikhlas hasilnya akan dinikmati kita2 juga...
miapiyik wrote on Feb 27
Setuju, setuju, setuju....
Hidup merantau memang 'memberi pelajaran' bagi kawan-kawan laki-laki yg blum terbiasa mengerjakan pekerjaan tertentu.
Dan sebaliknya bagi kawan-kawan perempuan untuk melakukan hal-hal baru yang tadinya tidak terpikir akan dikerjakan sendiri waktu di Indonesia.
iya mba Hany, bener pembelajaran banget untuk yang terbiasa bahwa lelaki itu harus diladeni, situasinya lain kalau merantau, mana kebayang dulu, bawa ransel gede isi belanjaan berkilo2 dari toko halal yg jauh dari rumah, sementara perut membawa bayi, sedang hamil 8 bulan, duh.. kalu inget rasanya mau ketawa.
niwanda wrote on Feb 27
Alhamdulillah dapat suami yang tidak mengkotak-kotakkan pekerjaan rumah... Ada memang yang sudah dibagi kayak cuci alat masak/piring bagianku dan bersihin kamar mandi bagian dia, tapi yang lain bantu-membantu lah...
miapiyik wrote on Feb 27
Setuju Mia, yang benar pekerjaan domestik adalah perkerjaan manusia (laki-laki dan perempuan) bukan cuma dibebankan pada perempuan saja, malah menurutku, seharusnya pekerjaan mencuci kalau dikerjakan secara manual harusnya di kerjakan laki-laki karena kan katanya laki-laki lebih kuat secara fisik. Dirumah memasak adalah bagianku, membereskan dan membersihkan sehabis makan adalah tugas suamiku, juga perkerjaan lainnya kami kerjakan berdua.
iya Hany, sebaiknya begitu tentu, cuma sedihnya, dulu, pengalamanku udah sama-sama berjuang di LN, teman banyak yg seperti ini, aku miris aja liat istrinya ampe kaya orang anemia, kurus, pucet, capek. Sementara suaminya ndut karena hobiii makan, dan tinggal order mau makan apa hari ini, duuuuh :(
miapiyik wrote on Feb 27
benar mbak Mia....

knapa sih pekerjaan kudu dikotak-kotakan..

yg penting niat n gimana kitanya mengajari klo pekerjaan iitu dilakukan dg tulus ikhlas hasilnya akan dinikmati kita2 juga...
iya Ci, kalau tulus ikhlas yang senang, puas dan nikmati kita juga. introspeksi aja sih, karena saya sampe saat ini masih dapet keluhan model begini dari para istri dan para Ibu (tetangga/saudara). Suami/anak lelakinya ngga mau tau sama sekali soal pekerjaan rumah ini
miapiyik wrote on Feb 27
niwanda said
Alhamdulillah dapat suami yang tidak mengkotak-kotakkan pekerjaan rumah... Ada memang yang sudah dibagi kayak cuci alat masak/piring bagianku dan bersihin kamar mandi bagian dia, tapi yang lain bantu-membantu lah...
Leila, senang dengarnya kalau demikian, iya, kalau masih berdua, enakan kerja berdua ya, lebih romantis juga...hihihi
abhicom2001 wrote on Feb 27
..saya mau juga sih sebenarnya nyapu dan ngepel....tapiiii gimana yak heheheh
miapiyik wrote on Feb 27
kenapa pak Imam? sekalian olahraga, nyapu dan ngepelnya :D
harlia wrote on Feb 27
klo suamiku jelas:
apa aja, asal jangan disuruh nyetrika!
:P

miapiyik wrote on Feb 27
hehe, iya Harlia, saya juga ngga begitu suka, tapi asik juga liat kain kusut jadi licin mulus setelah disetrika
yenisfamilyblog wrote on Feb 27
Alhamdulillah,saya punya suami walaupun datang dari suku yang katanya laki-laki itu biasanya ngga pernah ikut campur pekerjaan rumah,tapi nyatanya suamiku membantu dan kadang ikut mengerjakan Dapur juga.
atiagus wrote on Feb 27
wah salut buat pak budi......:)
bundaathira wrote on Feb 27
AlhamduliLLAH...aku juga b'hasil menerapkan seperti Mbak Mia dari awal nikah...

Dan t'nyata...background kluarga-ku & kluarga Mas Oke juga begitu...
Mas Oke nggak kaget waktu liat Almarhum Bapak masak makanan Solo di dapur...begitu juga aku nggak kaget liat Papa-nya Mas Oke lagi nyetrika...

Buat aku pribadi, tetep manager operational ya Nyonya Rumah Tangga...krn kita yg lebih banyak b'interaksi dgn anak2, khodimat, juga isi2nya...

TFS anyway, Mbak Mia... :)
allaboutandrie wrote on Feb 27
Betul Bunda.. suami juga harus merasakan pekerjaan istrinya sekali-kali.. Ya bersyukur alhamdullilah punya suami yang ga susah buat ngerjain pekerjaan rumah kecuali nyetrika sech.. :) Malah klo urusan masak dia yang lebih jago.. Lho??? ^__^
yuanaserkan wrote on Feb 27
setuju... tapi punya suami kayak suamiku malah bikin rasa malas di dalam diri semakin terpupuk :-p
myshant wrote on Feb 27
setuju ...asalkan dikomunikasikan, gak ada istilah risih membantu istri
dan semakin dibantu, istri akan semakin menghargai suwami lho ...jadi makin kompak kan.
tentang mengajari anak2 itu, bener banget deh mbak, ajari anak dan jangan berharap hasilnya akan serapi kerjaan kita.
aku punya kakak, yg rapi banget, saking rapinya semua dikerjain sendiri, jadinya ketika anaknya dewasa dan harus kost, malah gak bisa apa2 karena gak terbiasa membantu ibunya.
diyas wrote on Feb 27
saya paling tidak suka pekerjaaan yang dipilah-pilah, selagi masih mampu ya kerjakan...he he he
spaceneedle wrote on Feb 27
betuulll, itulah hikmahnya juga tinggal di rantau yaa, jadi saling bahu-membahu..., aku perhatikan teman2 indonesia-ku disini semua bekerjasama di RT-nya...pria-wanita semua tidak ada yg"ladenan"..., ini jadi saling mamacu satu sama lain, dari mulai ngurus anak, ngurus rumah semua dikerjakan bersama..., anak2 disini juga lebih mandiri, krn mungkin terbiasa sejak kecil sdh dibiasain membantu ortunya.
bundaelly wrote on Feb 27
hihihi.. jadi senyum2 sendiri. membayangkan "pembagian tugas" nanti. ah, makasih tulisannya mbak.
*ngayalnya terlalu tinggi neh*
nonragil wrote on Feb 27
Setuju Mia, bhw semua pekerjaan memang hrs dikerjakan bersama. Kitapun mendidik anak-anak saya spt apa yg Mia tulis. Masa iya, status kita sbg istri sekaligus sbg Upik Abu???
ikaardina wrote on Feb 28
Ah, yang ngebedain laki sama perempuan kan cuma hamil dan melahirkan aja... Domain publik dan domain domestik sama2 merupakan hak dan kewajiban laki dan perempuan...:D. Manusia aja yang seringnya terlalu sombong... bikin pengkotak2an..
miapiyik wrote on Feb 28
Alhamdulillah,saya punya suami walaupun datang dari suku yang katanya laki-laki itu biasanya ngga pernah ikut campur pekerjaan rumah,tapi nyatanya suamiku membantu dan kadang ikut mengerjakan Dapur juga.
Alhamdulillah Yen, jikalau demikian, kasian rekanku, pernah ibu mertuanya datang, dan mereka dari suku yang-juga-lelaki-pantang-bekerja-mengurus-rumah-dan-anak dan apa yg terjadi? suami, dan mertuanya asik jalan-jalan,ke negri tetangga, dia ngga diajak :(, ada mertua ngga membantu mengerjakan urusan RT, akhirnya sakit karena capek, duuuuh...kasihaaan sekali
miapiyik wrote on Feb 28
atiagus said
wah salut buat pak budi......:)
makasih Ti, setidaknya,kami bisa berbagi tugas mengurus RT sehari-hari
miapiyik wrote on Feb 28
AlhamduliLLAH...aku juga b'hasil menerapkan seperti Mbak Mia dari awal nikah...

Dan t'nyata...background kluarga-ku & kluarga Mas Oke juga begitu...
Mas Oke nggak kaget waktu liat Almarhum Bapak masak makanan Solo di dapur...begitu juga aku nggak kaget liat Papa-nya Mas Oke lagi nyetrika...

Buat aku pribadi, tetep manager operational ya Nyonya Rumah Tangga...krn kita yg lebih banyak b'interaksi dgn anak2, khodimat, juga isi2nya...

TFS anyway, Mbak Mia... :)
sama-sama mba Lulu..iya, cuma kadang, apalagi kalau ikhwah ...duh asyik aja liqo (pdhal yg dibicarakan basket lah, F1 lah, kadang film anime lah, yg menurutku ngga penting2 amat) ketemuan ampe malem, anak2 ditinggal ama istri, sampe rumah tinggal makan, tidur, khadimat belum punya. Koq hubungannya kurang sehat menurutku?
miapiyik wrote on Feb 28, edited on Feb 28
Betul Bunda.. suami juga harus merasakan pekerjaan istrinya sekali-kali.. Ya bersyukur alhamdullilah punya suami yang ga susah buat ngerjain pekerjaan rumah kecuali nyetrika sech.. :) Malah klo urusan masak dia yang lebih jago.. Lho??? ^__^
iya sama Andri, Bunda juga diajar masak sama suami :), ngga bisa masak dulunya,
ini pernah Bunda posting :
http://miapiyik.multiply.com/journal/item/21/Guru_Memasak
miapiyik wrote on Feb 28
setuju... tapi punya suami kayak suamiku malah bikin rasa malas di dalam diri semakin terpupuk :-p
hehe, sangat rajinkah suamimu Yuana? selamaaat
miapiyik wrote on Feb 28
myshant said
setuju ...asalkan dikomunikasikan, gak ada istilah risih membantu istri
dan semakin dibantu, istri akan semakin menghargai suwami lho ...jadi makin kompak kan.
tentang mengajari anak2 itu, bener banget deh mbak, ajari anak dan jangan berharap hasilnya akan serapi kerjaan kita.
aku punya kakak, yg rapi banget, saking rapinya semua dikerjain sendiri, jadinya ketika anaknya dewasa dan harus kost, malah gak bisa apa2 karena gak terbiasa membantu ibunya.
betul Shan, kalau anak disuruh serapi kita, frustrasi pasti, lha usia mereka masih 1/3, 1/5 atau 1/10 usia kita kan :) jadi kalau hasilnya 1/10 hasil kerja kita, ndak apa, yang penting mereka mau belajar
itu dia, ada juga kenalan seperti itu, ibunya rajiin sekali, ndilalah anaknya dimanja dan ngga bisa mandiri, tergantung ibunya
miapiyik wrote on Feb 28
diyas said
saya paling tidak suka pekerjaaan yang dipilah-pilah, selagi masih mampu ya kerjakan...he he he
iya teh Dina, selagi mampu ya kerjakan, kecuali kalau berat banget (misalnya ngangkat2 berat) ya sudaaah, nyerah, tapi kan udah coba dikerjakan juga
miapiyik wrote on Feb 28
betuulll, itulah hikmahnya juga tinggal di rantau yaa, jadi saling bahu-membahu..., aku perhatikan teman2 indonesia-ku disini semua bekerjasama di RT-nya...pria-wanita semua tidak ada yg"ladenan"..., ini jadi saling mamacu satu sama lain, dari mulai ngurus anak, ngurus rumah semua dikerjakan bersama..., anak2 disini juga lebih mandiri, krn mungkin terbiasa sejak kecil sdh dibiasain membantu ortunya.
hihi Mita, syukurlah udah lama ngga ada yang manja, ini aku lagi nulis refleksi awal2 kedatangan suami beserta sekelompok besar rekan2 mahasiswa. masih kaget kali yee, jd aja pada minta diladeni begitu...tp dkit dikit udah pada insyaf akhirnya :)
miapiyik wrote on Feb 28
hihihi.. jadi senyum2 sendiri. membayangkan "pembagian tugas" nanti. ah, makasih tulisannya mbak.
*ngayalnya terlalu tinggi neh*
gapapa dik Elly, ini bukan berkhayal, cepat atau lambat, insya Allah giliran dirimu akan tiba dik..(haha, aku mendadak berasa tuaa banget).
miapiyik wrote on Feb 28
Setuju Mia, bhw semua pekerjaan memang hrs dikerjakan bersama. Kitapun mendidik anak-anak saya spt apa yg Mia tulis. Masa iya, status kita sbg istri sekaligus sbg Upik Abu???
iya, kasian ya, mba Helen, masa istri harus jadi Upik Abu. Enakan suami-istri-anak jadi super team aja bersama anak-anak ya...
miapiyik wrote on Feb 28
Ah, yang ngebedain laki sama perempuan kan cuma hamil dan melahirkan aja... Domain publik dan domain domestik sama2 merupakan hak dan kewajiban laki dan perempuan...:D. Manusia aja yang seringnya terlalu sombong... bikin pengkotak2an..
iyaa, Ika kalo ketemu manusia yg manja, gak mau kerja, laki atau perempuan, gimana Ka? ada loh, duh, kasian ama pihak ter "tindas", kecapean
pecintasheika wrote on Feb 28
Waah Alhamudlillah yah mba, punya suami yang pengertian begitu. Alhamdulillah aku dan suamiku di negeri rantau ini, gak ada masalah dengan urusan rumah. Tapi kadang-kadang emang suamiku itu gak bisa dibiarin jalan sendiri, aku harus tetep jadi menejer-nya. Hehehe, suamiku suka gak ngerti mana yang harus dikerjain tanpa ada komando. Tapi kl udah dapet komando, gak segan-segan deh dia ikut turun tangan...
miapiyik wrote on Feb 28, edited on Feb 28
iya Sheika, salam kenal :) yang aku lebih bersyukur lagi, sampe di Depok skrg, suami masih mau membantu dikala dibutuhkan,walau bantuannya, kadang lebih banyak bersama anak, mengkoreksi PR, mendongeng, juga kalau tidak ada PRT ikut turun tangan.
iya, Alhamdulillah, memang (sok tau aku) perlu komando, karena, ada beberapa pria/wanita yg tidak bisa/ tidak biasa bekerja jaman lajang dulu...perlu bimbingan dari pasangannya kalau begini ya :)
aprylea wrote on Feb 28
hebat mba mi...
hebat banget...
miapiyik wrote on Feb 28, edited on Feb 28
cepet sembuh lea, istirahat ya
*ngga nyambung kan? lea lg dirawat di rumah sakit niy*
aprylea wrote on Feb 28
cepet sembuh lea, istirahat ya
*ngga nyambung kan? lea lg dirawat di rumah sakit niy*
makasih mba mi...
mba mia n kel sehat kan??
iya mba lea lagi dirumah sakit..:(
yukevirlianti wrote on Feb 28
setuju Mba... dalam segala hal kita berhak untuk mengekuarkan segenap potensi kita dan tetap pada batas kefitrahan...
miapiyik wrote on Feb 28
iya Ke, insya Allah...sesuai fitrah ya
yasmin1076 wrote on Feb 28
udah ada pembagian tugas sih, tp kalo ybs ngga bisa prinsipnya saling ngebantu aja.
miapiyik wrote on Feb 28
iya In, intinya ngga ada yang satu capek sekali, pasangannya senaaang selalu ^_^
spaceneedle wrote on Feb 28
hihi Mita, syukurlah udah lama ngga ada yang manja, ini aku lagi nulis refleksi awal2 kedatangan suami beserta sekelompok besar rekan2 mahasiswa. masih kaget kali yee, jd aja pada minta diladeni begitu...tp dkit dikit udah pada insyaf akhirnya :)
iya Mi.., tinggal di rantau kan ga ada pembantu, baby sitter, sopir, tukang kebon (sebetulnya siy ada ya, cuma ga mampu bayar mereka2 ini..haha), ...lha sapa yg ngerjain itu semua kalo bukan suami istri..?
Makanya paling enak itu di Indonesia deh....nyaman dan dimanja....hhmmm...*kangen kampung halaman*....
vi3nzz wrote on Feb 28
Salut buat teamwork mbak mia yang kompak !

Satu pelajaran utk saya, yang perfeksionis-nya lagi dikikis dikit2...:x
akhirnya menelan lelah sendiri. Lelah hati, fisik...emang enak ?

Jazakillah atas berbagi kisahnya....
pelangidimatamu wrote on Feb 28
Ahh subhanalloh...meskipun belum berkeluarga..minimal udah ada bekel ilmu nih dari mbak Mia...:) Danke mbak mia...:)
miapiyik wrote on Feb 28
iya Mi.., tinggal di rantau kan ga ada pembantu, baby sitter, sopir, tukang kebon (sebetulnya siy ada ya, cuma ga mampu bayar mereka2 ini..haha), ...lha sapa yg ngerjain itu semua kalo bukan suami istri..?
Makanya paling enak itu di Indonesia deh....nyaman dan dimanja....hhmmm...*kangen kampung halaman*....
iya Mit, berat di ongkos, bisa2 80% dana buat ngegaji bala kurawa bantuan.
kangen kampung Mit? liburan atuh sekeluarga...
*sambil ngunyah combro, singkong goreng, minum dawet...enak loh Mit*
miapiyik wrote on Feb 28
vi3nzz said
Salut buat teamwork mbak mia yang kompak !

Satu pelajaran utk saya, yang perfeksionis-nya lagi dikikis dikit2...:x
akhirnya menelan lelah sendiri. Lelah hati, fisik...emang enak ?

Jazakillah atas berbagi kisahnya....
Waiyyaki mba Vien....hm...iya, dulu saya dan suami sama2 perfeksionis untuk jenis kerjaan (yang kita anggap) jagoan masing2. tapi ya itu, kalo salahsatu berhalangan, masa ngga dikerjain? abis itu sama2 mengurangi kadar perfek masing2
ALhamdulillah , lebih nyaman jadinya
miapiyik wrote on Feb 28
Ahh subhanalloh...meskipun belum berkeluarga..minimal udah ada bekel ilmu nih dari mbak Mia...:) Danke mbak mia...:)
Alhamdulillah Hen, kalau berguna, tapi ini baru efektif setelah beberapa lama menikah, awal2nya ya ngga semulus ini, trial and error and also cry...haha, nangis ini kalo masakanku belum bisa enak dan suami akhirnya masak sendiri :D
spaceneedle wrote on Feb 28
*sambil ngunyah combro, singkong goreng, minum dawet...enak loh Mit*
apalagi Mi...apalagi??? apalagi??? keluarkan deh semua isi lemari makanmu....kejaamm bangeettt.......

eh Mi, kamu hebat juga ya bikin pesta buat segitu byk org masih berani pake piring gelas beneran..., kalo disini demi menghemat tenaga kalo ngumpul2 udah diatas 10-15 org...yg ada pake piring, gelas disposable....enak abis pesta ga usah repot nyuci2, tinggal buang sampah aje....:))
miapiyik wrote on Feb 28, edited on Feb 28
haha, apalagi ya Mit? *di lemari ada sale pisang, kripik ceker, kripik paru*
udah ah,kasian ntar kibord kompie mesti dielap

ujungnya dana say...mahasiswa,berat juga beli yg disposable...di Jerman ngga semurah di USA, barang2 plastik koq mahal banget rasanya (jaman duluuu 6 Euro =9$ untuk 20 piring atau 20 gelas plastik menurutku mahal).
atau aku aja ngga nemu tempat beli yg murah ya?
spaceneedle wrote on Feb 28
wuaahh yo mahal ya Mi, kalo segitu...
disini aja dari 8 thn yg lalu sampe skrg harga ga berubah byk...piring dan gelas kertas udah yg bagus utk 50 orang paling $12...lumayaann kaann....
miapiyik wrote on Feb 28
itulah, jauh kan bedanya? bisa buat belanja seminggu uangnya *hiperbola*...
seingetku thn 2000 dulu di LA barang2 gitu murah, biasa kalu mau BBQ atau kumpul2. dan kualitasnya bagus, ngga meleot2. Mita...pamit dulu ya... offline dulu
oier wrote on Feb 28
kok jadi pada omongin harga piring...

*dengan wajah tanpa dosanya*
hihihii...
miapiyik wrote on Feb 29
hehe..biasa di MP mah, awalnya apa, buntutnya ngomongin apa :D
melyarie wrote on Feb 29
Mbak..aku suka postingan ini. Jadi pengen spt keluarga mbak.
miapiyik wrote on Feb 29
Alhamdulillah kalau postingan ini bisa menginspirasi Mely, senang sekali
181205tl wrote on Feb 29, edited on Feb 29
jadi ingat dirumah, aku ngebantu papa nganterin genting ke atas atap (papa sedang ganti genting lama dengan yg baru), sementara abangku nyuci baju, abang satu lagi nyuci piring,adik perempuanku bantuin mama masak, adik laki2ku belanja ke pasar. Ngga ada pilih2 klo perempuan ngerjainnya yg ini, yg cowok yg itu. Makanya dirumah sejak kita dah agak besar, jasa pembantu bisa dikurangi.
miapiyik wrote on Feb 29
iya, aku harap juga begitu, kalau anak2 sudah besar, minimal yg bungsu kelas 3 SD, ngga ada lagi pembantu. sekarang aku masih pake pembantu Like, 2 Balita, 1 teenagers dan suami yang sering dinas keluar kota/LN, seringkali, membuatku masih butuh teman berbagi pekerjaan
cikicikicik wrote on Feb 29
wecks, gulai nangka??? kapan2 mas Iwan mau tak minta kursus masak ke mas Budi aja mbak...aku ikut, karena aku juga blum bisa bikin gulai nangka yang enak... **hihihih**

tapi betul loh, niat baiknya yang harus kita kasih credit, suamiku juga suka bantu2 kalo si mbak pada pulang, dan memang nggak boleh mengharap hasilnya akan sama dengan kita...kadang2 antara "membantu" dan "menambah kerjaan dan omelan" sangat tipis bedanya, mirip kalo anak-anak yang bantuin gitu...hihihi

dan satu lagi : suamiku selalu mebantu dengan sukarela, kalo tidak sangat terpaksa jarang aku meminta, kalopun meminta aku akan memilih menyerahkan pengasuhan anak-anak saja ke dia, karena kalo dipikir2 lagi, mereka udah capek bekerja mencari nafkah, kasihannya kalo harus ikut bertanggungjawab urusan domestik juga

sekali lagi salut malut buat mas Budi... **acungin jempol** :-)
miapiyik wrote on Feb 29
hehehe, lucu deh kalimatmu Da, "antara membantu dan menambah kerjaan" kalo ini, aku yg kaya gitu, karena hasil kerjaku suka ngga rapih seperti mas Budi :)
iya, suami memang repot dengan mencari nafkah, sesampai di depok juga mas lebih banyak membantu yang bersifat "mengajak dan mendidik anak". ini cerita dulu Da, jaman masih sekolah :)
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.