Blog ini terinspirasi dari milis yang ramai berdiskusi soal ini. Tulisan ini hanya pengalaman pribadi semata, maaf jika ada tulisan yang kurang berkenan. 4 tahun SD swasta,2 tahun SD Kristen dan 2,5 thn di SMP Katolik Frateran, membuat saya tidak tau benda apa jilbab itu. Di SD Kristen dulu, sebelum mulai belajar, selain berdoa, kami harus menyanyi lagu rohani yang berbeda tiap harinya, belum lagi, saya adalah salah satu dirigen paduan suara lagu rohani di kelas. Di SMP yang berbatasan langsung dengan wisma Frater (calon Pastor) mayoritas lingkungan kegiatan saya di OSIS SMP dihabiskan disana, jadi tidak aneh saya selaku ketua OSIS sambil rapat OSIS, di ruang sebelah, saya melihat dan mendengar Frater sedang training kerohanian dengan Pastor. Pelajaran Budi Pekerti yang saya dapat untuk menggantikan Pelajaran Agama Katholik di kelas pun banyak menyitir ayat dari Kitab Suci. Di SMA pun, ekskul saya PMR dan beladiri, bukan Rohani Islam/ Rohis, walau ada beberapa teman Rohis yang dekat dengan saya. Jadi ketika suatu hari ada Pengajian Pesantren Kilat 3 hari untuk mengisi libur semester akhir tahun 1988, dan karena rumah orangtua saya dikenal sebagai markas anak-anak (tapi kebanyakan anak beladiri, anak PMR dan lainnya yang sering bermarkas disini) maka saya diajak ikut serta. Awalnya...waaah...aneh sekali melihat kakak-kakak alumni yang sudah kuliah di beberapa PTN,mereka memakai sehelai kain menutupi kepala sampai dada dengan beberapa peniti. Bajunya pun jauh dari modis, berupa gamis (gaun terusan berlengan panjang), yang umumnya berwarna sendu, kelabu, hijau lumut, coklat. Untuk pertamakalinya saya melihat pemakai jilbab dan gamis. Jam demi jam, materi yang diberikan sangat menyenangkan untuk hati, Hakekat Penciptaan Manusia, Cinta kepada Allah, Cinta kepada Rosul, Bersaudaranya sesama Manusia, Belajar dari Alam, Hakikat Waktu, sampai materi teakhir, Muhasabah (introspeksi diri). Materi tentang introspeksi ini yang membuat saya berpikir beberapa kali, memakai jilbab untuk Muslimah tertera dalam surat An Nuur Dan hendaklah (para wanita) mereka menutupkan kain kudung kedadanya (QS. An-Nuur: 31) Kakak-kakak itu tidak pernah memaksa, hanya mengajak. Saya sendiri beberapa bulan setelah Pesantren Kilat itu, belum juga berjilbab, tetep tomboy, pakai rok hanya rok seragam, tetap kaos celana panjang, tetap jadi anak yang rame, banyak teman, rajin kemping, rajin PMR, tetap ikut beladiri, aktif ekskul. Saya yang ngga hobi berenang, ngga bisa lancar renang malahan. Jadi saya tidak terlalu berat berjilbab dibandingkan teman yang masih berat berjilbab karena hobi berenang. Akhirnya, di pertengahan tahun 1989, ketika saya sembuh sakit beberapa teman SMA yang lebih dulu berjilbab, rajin membesuk,saya dikasih kado 2 jilbab putih tapi memakainya pun saya belum bisa, penitinya mesti ditusuk kemana, jilbabnya mesti dilipat bagaimana? Baju panjang pun saya belum punya, koleksi baju mayoritas hanyalah kaos, jeans, dan satu dua rok selutut. Berdua dengan adik, kami pun mulai beli satu dua kemeja kotak kotak tangan panjang, persis kemeja teman-teman pencinta alam. Habis dikasih kado itu lalu saya pakai jilbab? Belum, hehehe, ulang tahun ke 17 di bulan Juni saya rayakan dulu, sekalian syukuran sembuh sakit. Bajunya? Ya rok blus biasa, rok selutut, blus tangan pendek warna pink. Keinginan memakai jilbab sempat menguap beberapa lama saat itu. Kemudian keinginan berjilbab muncul kembali. Bapak Ibu ketika diberi tahu melarang keras, kuatir anaknya terbawa aliran Islam ekstrim. Seorang Bude melarang, katanya, masih remaja koq pake kerudung kaya orang tua, nanti ngga laku, ngga ada yang mau sama saya. Seorang eyang juga panik berat, karena memang di keluarga besar, baru saya dan adik yang berkeinginan seperti ini. Keinginan ini baru sebatas dalam hati, masih maju-mundur-maju mundur selama 1,5 tahun ke depan, dari akhir 1988 sampai awal tahun 1990. Keluarga saya adalah keluarga Islam kebanyakan. Abangan kalau istilah Jawa, Islam dipahami sebatas ritual Shalat, Puasa, Zakat, pergi Haji. Sulit sekali jika menyitir ayat, pendapat tersering adalah istri Ustad ini atau Kyai anu juga ngga berjilbab. Duh Gusti Allah, bagaimana ini? Saya sedikit banyak terpengaruh juga dengan semua pendapat itu. Akhirnya, setelah menguatkan hati, pendekatan siang malam ke orang tua, Ibu akhirnya luluh, dengan syarat, kalau udah pake ngga boleh lepas jilbab. Ibu sendiri belum berjilbab saat itu. Bapak memperbolehkan dengan syarat berat untuk saya. Boleh pakai jilbab, tetapi harus lulus UMPTN. Hadoooh, gimana niy? Ambil ngga tantangan ini? Saya prestasinya sangat biasa di kelas, tidak pernah masuk 5 besar, sesekali kalau hoki, masuk 10 besar di kelas, selebihnya? Ranking belasan lah, hehehe. Bulan Maret 1990, keinginan itu sudah membuncah, pakai sekarang, dengan sebuah niat baik, tekad bulat, maka saya dan adik berdua memakai jilbab, masih aneh, karena saya memakainya dengan blus kotak kotak panjang dipadu kulot sebetis ditambah kaos kaki selutut.Iya, kaos kaki putih yang biasa dipakai teman-teman Paskibra. Dipakai pertama kali ke kursus bahasa di LIA Slipi. Satu dua teman memandang aneh dengan pakaian saya. Siangnya (saya masuk sekolah siang, jam 1) saya dan adik juga pakai jilbab ke sekolah. Saat itu tidak boleh pakai rok panjang, jadi rok masih selutut, ditambal dengan kaos kaki, blus tangan panjang, ditambah jilbab putih. Beberapa teman memberi selamat, beberapa teman, pria dan wanita protes, komentarnya :"Yaaa, Mi, elo bakalan jaim deh, elo ngga asik lagi deh, ngga bisa maen bareng dan ngobrol rame lagi". Menghadapi serbuan komentar begitu, saya gelagapan. Belum lagi, 2 jam kemudian saya dipanggil ke kantor guru. Disidang.  Waaaaks, mati deh, pikir saya. Bener juga, kiamat kecil datang, beberapa teman berjilbab dan juga adik saya, dipanggil. Diceramahi dari Utara Selatan, dari Barat ke Timur. Bahkan ketika kami mencoba menjawab bahwa itu adalah hak asasi manusia, selalu terbentur kenyataan bahwa pemakaian jilbab belum legal di sekolah. Ya, para guru itu benar sekali. Akhirnya, kompromi didapat, kami tidak dikeluarkan dari sekolah, jika mau melepas jilbab jikalau ada guru yang keberatan jika ada murid berjilbab di kelas. Masa ini merupakan masa penuh perjuangan, sedih bercampur malu, selesai masalah dengan orangtua, muncul masalah dengan guru. Di tahun 1990 saat itu, jilbab belum legal di tingkat SMA dan SMP. Jadilah kami harus kucing-kucingan, karena ada beberapa guru yang amat sangat keberatan dengan pemakaian jilbab. Begitulah, masa ini cukup berat buat saya dan kawan-kawan. Kadang ingin menyerah, karena malu juga, masa' satu jam pake jilbab, untuk kemudian 2 jam pelajaran jilbab ini harus dibuka dahulu? Alhamdulillah, beberapa teman pria dan wanita yang simpati tidak hanya dari ROHIS, tapi juga ekskul lain, teman-teman PMR, beladiri, Pencinta Alam juga, ikut melobi para guru, dengan berbagai pendekatan. Dari 60% guru yang melarang murid berjilbab, tinggal 20% yang keberatan mengajar kalau kami pakai jilbab di kelas. Untuk olahraga pun, kami bisa sukses, melobi guru olahraga, sehingga celana training panjang bisa dipakai untuk yang ingin (pria maupun wanita, karena beberapa rekan pria, juga ada yang malu memakai celana pendek). Tadinya...wow seksyeh..olahraga harus pakai celana pendek setengah paha. Orang tua teman pun masih memandang aneh pemakaian jilbab, saya ingat ketika datang ke rumah teman wanita yang jago Fisika untuk belajar bersama, ibunya ketika melongok saya di pintu gerbang berkomentar: "Mau minta sumbangan ya"...segera saya bilang bahwa saya teman sekelasnya Sari (nama samaran) yang mau belajar bersama. Saat itu, berjilbab mungkin masih identik dengan peminta-minta sumbangan. Pelarangan jilbab tidak membuat calon pemakainya surut, makin dilarang, makin banyak yang ingin tau, main ke ROHIS, beberapa menunjukkan keinginan memakai jilbab, beberapa bersimpati. Apalagi kakak kelas yang sudah lulus, sudah kuliah, rajin datang ke SMA 6, mengisi kajian, memberi semangat pada adik-adik kelasnya. Setelah menanti beberapa lama, saya lupa tepatnya bulan apa di tahun 1991, pemakaian jilbab dilegalkan oleh Depdikbud di SMP dan SMA Negeri, sujud syukur dihaturkan ke hadirat Allah SWT. Trimakasih ya Allah, Maha Pengabul Do'a. Adik saya, Rulli, ikut menjadi model pemakaian jilbab yang diperbolehkan, untuk sehari saat itu, dia jadi selebriti, berita di TVRI dan di koran memuat wajahnya yang berjilbab dengan seragam SMA. Ada seorang Ibu guru (muslim) yang super duper streeeng, selalu melotot kalau saya dan Dewi (teman sebangku) pakai jilbab, segera suruh dilepas.Tapi beliau juga satu-satunya guru yang menulis surat pribadi untuk saya dan Dewi, ketika jilbab sudah diperbolehkan untuk siswa SMP dan SMA. Isi suratnya, beliau minta maaf karena dia hanya patuh pada peraturan Depdikbud kala itu, kemudian beliau mengucapkan selamat karena saya (dan teman putri lain) sudah bebas memakai jilbab di lingkungan sekolah. Siapa sangka, 10 tahun kemudian, tahun 2000 setelah episode sebel saya di kelas, tiap mata pelajaran sang ibu guru, yang justru membuat saya melantunkan doa semoga sang ibu guru yang modis ini suatu hari pakai jilbab pula, kami dipertemukan Allah jutaan menit sesudah kejadian, puluhan ribu kilometer dari SMA 6. Di negara asing, ketika saya menemani suami yang melanjutkan sekolah. Saya bertemu, berpelukan dan bernostalgia dengan sang ibu guru, yang ternyata, datang berlibur ke tempat anaknya melanjutkan sekolah.Dan...tarrraaaa anaknya ibu guru ini pun berjilbab sekarang, sama dengan sang ibu. Allah betul-betul Maha Mendengar semua doa. Subhanallah.... saya menangis terharu Suami saya bengong abis, beliau bilang:"Kamu kenal dengan ibunya Aila (nama samaran)"? Saya bilang, ya , kenal ibu guru itu sejak tahun 1987, beliaulah yang dulu paling galak melarang kami berjilbab di kelas (hal itu juga diakui Bu Guru ketika berjumpa suami). Siapa sangka episode kehidupan seperti itu? Sampai sekarang, kami berteman baik dengan keluarga Ibu Guru ini.
 | duuh..ikut terharu,mbak Mia..saya pernah menyaksikan teman2 di smp yg saat itu mendapatkan 'tekanan' dari guru2 untuk melepas jilbab |
 | perjuangan yang berbuah hasil. Memang tahun segitu masih aneh pake jilbab. Alhamdulillah keadaan sekarang lebih baik, sekolah islam yang baguspun bertebaran |
 | Waktu saya pake jilbab pas tingkat 1, orangtua saya rada2 cemas katanya yg ntar susah cari kerja...susah dapet jodoh. Alhamdulillah semua gak terbukti. Kerja dapet..suami dapet :-) |
 | Subhanallah, merinding Kak bacanya... Demikian beratnya ya perjuangan kala itu. Syukurlah Kak Mia dkk mendapat hidayah di usia yang cukup muda dan bisa bertahan di tengah segala larangan itu... |
 | kok jadi de ja vu ya baca tulisan ini? ;D
great story hmm!! |
 | Kapan ya bisa kayak mamaku juga bunda ini??.. Ada keinginan juga nih.. Smoga bisa secepatnya yah.. Amiin....Doakan aku ya bunda.. ^__^ |
 | proses yang panjang ya..he..he..he..tfs |
 | SubhanaLLOH...great story, Mbak... T'utama yg paling akhir...scenario-NYA emang MAHA INDAH ya...  |
 | ceritanya bagus sekali mba mia.. inspiratif :)
jamanku sekolah di SMU 6, jilbab sudah banyak dipakai kok mba.. ada guru kimia juga pakai jilbab. tapi memang jilbab sekarang lebih cantik dan modis.. seneng ya.. |
 | setuju... ceritanya bagus mbak. jadi pengen nulis cerita yang sama juga, walo gak sedramatis mbak mia :-)
|
 | ibutio wrote on Apr 17, edited on Apr 17 kita memang senasib...kalo saya sih beneran bongkar pasang pas masuk sekolah... trus seneng banget liat anak sekarang, bisa bebas pake jilbab kapan saja di mana saja, di tempat kerja juga...bank swasta nasional juga sekarang bisa berjilbab...jaman dulu mana ada, penyiar segala macem...hehehe, saya blom sempet posting :( |
 | kita memang senasib...kalo saya sih beneran bongkar pasang pas masuk sekolah... trus seneng banget liat anak sekarang, bisa bebas pake jilbab kapan saja di mana saja, di tempat kerja juga...bank swasta nasional juga sekarang bisa berjilbab...jaman dulu mana ada, penyiar segala macem...hehehe, saya blom sempet posting :(  iya Susi, udah baca critanya yang di milis, hayu atuh disharing disini :) iya, sekarang jauh lebih enak, Alhamdulillah, di tempat kerja, di arena publik udah sangat umum berjilbab |
 | aku 90, Inga bukannya angkatan 97? :) |
 | itu mah bisa2nya copy writer iklan pak, sbenernya sampo biasa kata saya, cocok2an juga tiap produk. lebih segar iya (pake ekstrak mint?cmiiw) sensasi yg sama jika kita pake sampo minty lainnya. |
 | Terharu ngebacanya, Mia....!! |
 | Helen, kenapa terharu? bagian mana? yg ketemu ibu guru ya? he-eh, itu juga aku terharu, huhuhu |
 | hehe, lucunya Helene, bapak saya menyangkal keras kalau dulu melarang2 saya berjilbab, dan boleh berjilbab asal lulus UMPTN. Lupa beliau. Ketika saya perlihatkan diary barulah beliau ketawa sendiri dan bilang: Haaah, masa sih Bapak kaya gitu dulu :) |
 | "Alahamdulilah sekarang mudah sekali memakai Jilbab yah Mia,tapii kadang Nisa suka sediih kalau jalan-jalan ke Bandung lihat ABG dan mahasisiwa pakai jilbab tapi pegangan tangan bahkan dirangkul sama temen-temen cowoknya,Suuzhon ajah deh barangkali suaminyaa :) " |
 | miapiyik wrote on Apr 17, edited on Apr 17 Husnu zhon maksudnya Nis :), berbaik sangka. Iya, kuantitas pemakai jilbab yang banyak ternyata signifikan dipengaruhi pula oleh kualitas pemakai yang belum istiqomah. Semua berpulang ke tiap individu Nis. Ranah ini tidak berani saya komentari, akan sangat panjang pembicaraan.
|
 | Aduuh itu kalimatnya begini, "Suuzhoon ajah dehNisa,barangkali suaminya" Maksudnya begituuu ha..ha :)" |
 | Hiks..hiks..thanks a bunch ummi udah ngingetin saat2 itu lagi, yg semoga membuat kita semua terus istiqomah di jalan Allah. Tanggal tepatnya: 7 Maret 1990...Hehe... |
 | iya itu kan tanggal kita pake jilbab pertama te Uik, tanggal legalisasi jilbab kapan ya? aku kok lupa. Beneran. Kamu jadi model mendadak ya, hehehe :) masuk TV
*temans, ini Rulli, adikku, sahabatku, sampe make jilbab bareng berdua*
|
 | Hmm..betul banget ummi. Januari 1991, tanggal persisnya lupa (boleh ya lht lg di diary?..:D ). Ada alm. pak Fuad Hasan (Mendikbud) n alm. pak Hasan Basri (ketua MUI), n bbrp pejabat negara lainnya. SubhanaLlah..sambil merinding nih.. |
 | Sori kalo gak nyambung komentarnya. Adiknya Mbak Mia itu Rulliana Agustin dari FKUI bukan? Fotonya kecil sih...gak jelas. |
 | miapiyik wrote on Apr 17, edited on Apr 17 betul Mba Nenden, itu adikku Rulliana Agustin FKUI 92. baru selesai S2 di Sydney, sekarang ngajar di Histologi |
 | hihihi... Alhamdulillah pas aku pake jilbab (th 93) sdh ga masalah di SMA 6. malah sempet ada temen, sehari2 pake jilbab tp krn ortunya pngn foto di ijazahnya ga pake jilbab, pihak sekolah minta ortu n temenku ini harus bikin surat pernyataan. jadi ribet yakk |
 | lain periode problemnya lain lagi ya Rin, hehehe, kasian juga ortunya pengen anaknya ngga berjilbab. Begitulah, semoga temanmu masih istiqomah ampe sekarang |
 | wah...salut perjuangannya...sip! |
 | iya Dy, hanya berbagi semoga tidak menjadikan bibit ujub dalam hati saya |
 | Wah terharu dech bacanya.... TFS ya...
|
 | pas lagi rame2nya itu Aku masiy SMP mbak..sempet liat temen2 yg ikutan berjuang..sementara Aku sih pakenya pas SMA thn 91...bener banget..sempet sayaaaangg ga bakalan bisa renang lagi...apalagi kolam renang dekeeeett banget dari rumah..ibarat kata..kepleset dikit dah nyebur deehh... Yang pertama pake sih justru nyokap...dengan syarat ga boleh kliatan TUA kek Ibu2 Guru Ngaji hahaha..jadinya nyokap teteup pake rok jeans panjang..atasannya kaos lengan panjang..pokoknya nyokap teteup funky dweehh..krn liat nyokap ok2 aja...akhirnya molai ikutan pake..dengan iming2 bokap..kl mo diajak ke Mekkah lagi kudu pake jilbab..kl ga kudu ngumpulin duit sendiri hahahah...anak SMA kelas 1..adikku malah masiy SMP kelas 1..ngitungin duit buat berangkat ke Mekkah tuh bagaikan ngitung kekayaan kl menang Monopoli hahhaha... Akhirnya dari pada susyah nunggu menang Monopoli yoo weis ikutin kesepakatan dengan bokap hahaha....Alhamdulillah sampe sekarang...daaann sekarang renang bukaaann masalah lageee.. |
 | duh terharu sekali mb denger cerita mb' ini....alhamdulillah skrg pemakaian jilbab amat sangat mudah,gak ada yg larang2..subhanaAllah |
 | iYa, wuih, Subhanallah, malah berhadiah ke Mekkah ya :) untung aku ga hobi brenang, jadi ga gitu kehilangan dengan make jilbab (dasar males aja renang) tapi adikku teteup, hobi dan rajin brenang.ALhamdulillah sekeluarga bisa sekata ya dalam hal berjilbab ini. Semoga rukun dunia akhirat, Amin
*om, mau dong jadi anak angkatnya,jadi bisa ikooot ke Mekkah* |
 | Qtin, jaman dulu begitu ceritanya, suka duka memakai jilbab. aku suka cerita hal ini ke anak gadisku, untuk memberi semangat berjilbab, walaupun dia belum kena kewajiban berjilbab, karena belum aqil baliq. |
 | Subhanallah ceritanya dan kejadian2 di dalamnya!!! zaman aku sma (1995-1998), jilbab udah diperbolehkan di kelas, tp aku inget yg make masih dikit... |
 | iya Sil,ini hanya penggalan awal pemakaian jilbab di SMA, ada sejarah di baliknya. Aku sendiri merasa kurang heroik, dalam arti lebih memilih jalan tengah (pakai jika guru boleh dan kalau guru protes, memilih dilepas untuk 1-2 jam). Banyak sekali kakak-kakak thn 1986-an yang memilih dikeluarkan/pindah dari SMA demi bisa memakai jilbab. |
 | subhanallaah mom Mia, alhamdulillaah mom Mia bertemu dengan kakak2 yang baik (kaalu bun2 ketemunya lebih sering yg ekstrem, bingung juga).
perjuangan mom Mia, benar2 ruaaarrr biasa !!!
dan, ortu2 kita jaman itu, punya pandangan yg sama ya tentang jilbab.
SMA 6 ? Mahakam ?? :O
Bun2 di 70 ^_* |
 | Wahhh SubhanAllaah perjalanan rohani memakai jilbabnya, mbak Mia.... *terharu* Aku juga baru kenal jilbab ketika mbakku mulai pake tahun '92-'93-an. Dulu sih pas aku masih SMA ada juga yang pake jilbab dan mereka juga disuruh lepas jilbab waktu foto di buku perpisahan SMA... Sedih juga aku melihat sikon mereka meski aku juga kayaknya setipe dengan mbak Mia *tomboi de el el* hehehe... |
 | subhanallaah mom Mia, alhamdulillaah mom Mia bertemu dengan kakak2 yang baik (kaalu bun2 ketemunya lebih sering yg ekstrem, bingung juga).
perjuangan mom Mia, benar2 ruaaarrr biasa !!!
dan, ortu2 kita jaman itu, punya pandangan yg sama ya tentang jilbab.
SMA 6 ? Mahakam ?? :O
Bun2 di 70 ^_*  ini bukan cuma perjuangan aku bun2, tapi juga perjuangan semua Muslim *kuatir ujub hati* Alhamdulillah, semua sudah dimudahkan Allah SWT sekarang iya, bun2 betuuul Ummi SMA 6 Mahakam, jaman dulu udah banyak (calon) artisnya, hehehe :) wah tetangga di 70 ya , tapi mungkin angkatan kita beda jauuuh sekali *senyum*
|
 | subhanallah ... memang gak kebayang ya pada tahun segituan bahwa akan datang hari dikenakannya jilbab secara masal seperti sekarang ini ... justru sekarang malah kadang2 suka rada gimana ketika melihat ibu2 muslim sudah sepuh kok tidak pake kerudung ... walau untuk hal ini juga pasti yang bersangkutan punya alasan kuat tersendiri ... karena jilbab memang bukan jaminan akhlak ... tapi lepas dari itu ... mbak sendiri sangat bersyukur dengan ghirah (semangat) kaum muslimah sekarang untuk lebih menutup dirinya ... mbak pake kerudung th '93 sehari setelah dipinang ... kerudungnya minjem dari adik yang sudah duluan pake :-D |
 | mba Ratna, makasih kunjungannya. Alhamdulillah mba,anak, keponakan, adik kita jadi dipermudah segala urusan disekolah dengan legalnya jilbab (inget cerita mba Susi, ibu Tio)
kalau ibu2 sepuh, Mamah saya juga suka bercanda: "Ketentuan berjilbab itu tidak berlaku kalau udah sepuh kan" hehhe, saya bercanda balik, kalo sepuhnya misalnya kaya tante Titiek Puspa gimana Mah, masih keren kan. Trus kita berdua ketawa bareng. |
 | saya tinggal di Kebayoran Mba, LIA terdekat LIA Slipi. 1x naik bis, lainnya 2x naik, di MT Haryono dan Pramuka. Jaman dulu 18 thn lalu, masih sedikit ya Mba kursus Bhs Asing seperti LIA, skrg rasanya tiap kecamatan di Jkt ada kursus yg bagus2 |
 | Itulah Vin, urip iku numpang ngombe,hidup cuma singgah untuk minum sejenak. Bener juga ya pepatah Jawa itu, sementara kita juga ngga pernah tau apakah bekal kita udah cukup belum untuk hidup kekal kelak |
 | Yang penting usaha ... :) |
 | tahun 91 itulah ketika jilbab dilegalkan baru saya mulai pake mbak:-) berarti mbak Mia melewati masa2 perjuangan itu ya... saluuuuuuut! |
 | mba Inci, Alhamdulillah :) |
 | jilbab kini makin marak. berkibar di setiap pelosok. Aku bangga melihatnya. tapi kadang semakin pudar juga esensinya. Miris juga merenunginya..:( |
 | Vien, hehe, sama ya, dikira, peminta sumbangan
Untuk alasan kedua, wallahu'alam, saya tidak berhak "menjudge" |
| |